Pages

Kamis, 22 Maret 2012


Bayang Semu

Secangkir coklat panas dan dunia mayaku menemani aku menghabiskan petang yang menangis. Hujan di luar sana mendukungku untuk bermalas-malasan di kamar. Ketika aku sedang asik berbincang dengan temanku melalui obrolan di facebook tiba-tiba saja hand phone-ku berbunyi. Sms dari operator rupanya. Tak perlu lagi kubaca, langsung kupijit tombol delete dan kembali kuabaikan hand phone itu. Tak selang waktu cukup lama, ‘si putih’ panggilku untuk hand phone itu, berbunyi nyaring. Kali ini aku biarkan, kuanggap sms dari operator lagi yang hinggap di kotak masukku. Aku kembali menyelam dalam dunia mayaku.
Pukul 9 malam baru ku lihat ‘si putih’. Aku terkjut. Ternyata yang sms bukan operator, melainkan………..dia. Ya, dia. Dia orang di masa lalu yang tiba-tiba saja menghilang. Dan sekarang? Ia kembali lagi, mungkin.
Namanya, Enha. Dia teman lamaku. Dia yang membuat hidupku begitu berarti. Dia juga membuatku mengerti apa arti menyayangi. Ia adalah malaikat dalam hidupku. Enha membawa banyak perubahan yang positif dalam hidupku yang serba absurd.
Kami berdua bukan sepasang kekasih, kami hanya sepasang sahabat yang saling tulus mencintai sekaligus menyayangi. Kantin sekolah yang mempertemukan kami, saat aku dan dia duduk di bangku kelas IX. Tanpa sengaja pertemuan itu berlanjut dengan sms-an dan kemudia hangout bersama.
Pertemanan kami berlanjut hingga kami duduk di bangku SMA yang sama, dan kami memutuskan untuk menjalin persahabatan sampai kami menjadi kakek dan nenek. Namun harapan itu seketika sirna karena Enha pergi ke luar kota sebelum ia di wisuda. Tak ada yang tahu jelas apa penyebabnya. Aku sebagai sahabatnya pun tidak tahu soal kepergiannya itu. Kucoba hubungi nomor ponselnya tetapi tidak aktif. Kubuka akun facebook-nya namun akun itu sudah di blokir bersamaan dengan menghilangnya Enha. Hari itu juga aku terus menyelidikinya dengan cara mendatangi rumahnya dan bertama pada tetangga dan petinggi setempat. Hasilnya, nihil. Tak ada yang tahu Enha dan keluarganya pergi kemana.
Malam itu aku pulang dengan lesu dan langsung merebahkan tubuh di atas ranjang. Tiba-tiba ibu masuk menghampiriku, “Nak, ini ada titipan dari Enha” kata ibu sambil menyodorkan sepucuk surat beramplop merah yang tertera nama si pengirim di pojok kanan bawah. Enha. Dia yang mengirim surat itu. Aku heran lalu bertanya pada ibu, “Bu, kapan Enha memberikan surat ini pada ibu?” beliau bungkam. “Dia tadi kesini bu?”, perlahan ibu mulai membuka suaranya “iya, tadi pagi setelah kamu berangkat, Enha kesini, member surat ini pada ibu”. “Ibu tahu dia kemana?”, tanyaku penuh semangat berharap ibu tahu Enha berada dimana. “Ibu tidak tahu, Ri. Dia hanya menitipkan surat itu untukmu lalu dia bergegas pergi” kata ibu. Tubuhku semakin lemas.
Dan sejak saat itu, aku tak pernah lagi tahu dia dimana. Ohya, kembali ke-sms yang baru saja kubaca. Ternyata ini benar-benar Enha. Nomornya aktif kembali.

My Part
+6285xxxxxxx
Darl, how r u? I miss you so much.

Me :
Kamu kemana aja? Tiba-tiba menghilang. Kamu lupa dengan janjimu dulu? Kamu janji akan terus bareng aku, kamu janji buat jagain aku terus. Tapi mana buktinya!? Kamu pergi gitu aja. Gak pernah kasih aku kabar!


Tangisku pecah saat itu juga. Aku ingat semua cerita tentang kami berdua. Masa-masa indah, masa-masa kebahagiaan, dan masa-masa menyakitkan. Tak ada balasan yang masuk ke ponselku. Kucoba hubungi nomornya tetapi tidak aktif. Ya Tuhan, apakah harus ia menghilang lagi? Banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan kepadamu, Enha tolong jangan menghilang lagi.
Aku tertidur saat sedang menunggu balasan sms/telfon darinya. Hingga keesokan hari aku terbangun, tak ada satu sms pun darinya. Kuanggap semua kejadian itu sebagai mimpi, dan kulanjutkan kembali aktifitasku seperti biasa.
[]
            Berhari-hari kutunggu balasan darinya, namun tak kunjung dating. Baik. Aku memutuskan untuk benar-benar melupakannya, sama seperti hari-hariku kemarin saat aku tak lagi ingat dengannya.
            Malam minggu ini aku di undang sahabatku Evi ke acara makan malam di rumahnya. Kebetulan aku dan dia sudah bersahabat dari kami duduk di bangku menengah pertama. Dulu—sebelum Enha menghilang entah kemana, kami selalu makan bersama di rumah Evi. Namun setelah Enha pergi dan aku pisah sekolah dengan Evi, acara ini sudah tidak pernah kami adakan.
            Jam setengah 7 malam, aku sudah berada di kamar Evi. Sekedar bernostalgia. “kita makannya nanti dulu ya, Ri. Aku masih nunggu orang” kata Evi memberitahu. “Sip deh. Emang kamu lagi nunggu siapa sih, Vi? Pacar barumu ya?” tanyaku sambil meledek. Evi menyengir kuda.
            Jam 8 lewat 10 menit. Akhirnya kami turun ke lantai bawah dan segera ke meja makan. Sudah ada seorang laki-laki duduk membelakangi arah kami datang.


            Aku duduk di hadapan pria itu, dan Evi duduk di sebelah kanannya. Setelah duduk dengan posisi yang nyaman aku baru menyadari kalau orang yang ada di hadapanku sekarang bukanlah orang asing bagiku. Dia Enha. Laki-laki yang belakangan ini telah mengusik kehidupanku. Aku diam. Ia membisu. Aku terkejut, kenapa dia bias ada disini?
            “Hey. Udahan dong kalian bengongnya”, suara Evi memecahkan keheningan di ruang makan saat itu. “Vi, kok bisa?” tanyaku heran sambil menunjuk ke arah Enha. Evi hanya tersenyum dan Enha akhirnya bersua. Dia menjelaskan panjang lebar tentang kepergiannya yang misterius dan tentang kedatangannya yang tak kalah misteriusnya.
            Ternyata saat ia pergi dulu, ayahnya bangkrut dan terlilit hutang disana sini. Akhirnya rumah keluarganya di jual dan Enha sekeluarga kembali ke kampungnya. Soal kedatangannya yang tib-tiba, dia juga punya ceritanya. Sebagai siswa berprestasi di SMP dan SMA dulu, akhirnya dia memanfaatkan ilmunya untuk di ajarkan ke warga di kampungnya. Di dukung dengan kepala desa setempat, dia mampu membuat perubahan di desanya.
            Setelah di anggap mampu meruba desa menjadi lebih baik, akhirnya Enha di angkat sebagai kepala desa termuda selama hampir 2 tahun. Setelah ia rasa sukses merubah desanya menjadi lebih baik, akhirnya dia kembali ke Ibu Kota Jakarta. Menemui Evi dan merencanakan ini semua.
            Aku pikir inilah saat yang tepat untuk memberitahu kepadanya tentang semua yang telah kurasakan selama kehilangan dirinya. Kupikir ini waktu yang tepat untuk aku mengingatkan semua janjinya. Namun aku salah, ia terlalu jauh untuk kugapai.
            Maksudnya datang ke Jakarta hanya untuk memberitahu kepada Evi dan aku, bahwa ia sudah menemukan dambaan hatinya. Dia akan segera meminang anak juragan angkot di desanya. Dan seketika hatiku terasa ditusuk dengan belati. Aku rapuh. Lagi.
[]
            Setelah pertemuan malam itu, aku semakin sering menyendiri. Setelah jam kuliah habis pun aku langsung pulang. Aku juga jarang menginjakkan kaki ke kantin kampus. Aku lebih sering duduk diam di dalam kelas atau malah pergi ke perpustakaan saat jam istirahat.
            Pernyataan Enha di hadapanku malam itu membuatku benar-benar sadar kalau dia hanyalah bayang semu. Dia terlalu semua untuk kudekap kembali.
[]




Putre.




 

Template by BloggerCandy.com