Pages

Minggu, 17 Agustus 2014

From: My brain, with heart

Aku masih terjaga hingga detik ini. Pukul 00:00 
Masih memikirkanmu. Bersama kekhawatiran-kekhawatiran yang sejak tadi mengusikku.
Entah mengapa rasanya kian hari perasaan gundah itu makin kental. Diiringi ketakutan-ketakutan yang entah darimana asalnya.
Aku hanya ingin membantumu. Tapi aku tak dapat menjelaskannya. Hingga akhirnya lagi-lagi kamu salah mengerti maksudku.
Aku tak pandai dalam menjelaskan. Kau tau itu. Lalu aku tak pula pandai dalam pembuktian, hingga kamu tak pernah mengerti maksudku.
Terlalu sulit menjelaskannya dalam bentuk kata-kata. Semua terekam dalam otakku, selalu dimainkan. Namun, tak dapat kusampaikan. Terlalu sulit untuk mencerna semua maksudku. Yang tak lain hanya ingin membuatmu jadi seseorang yang lebih baik lagi.


Sincerely,
My brain with heart.

Jumat, 15 Agustus 2014

"Tak perlu mengikat, agar tak terjerat. Tetapi jangan dibiarkan bebas, agar tak terlepas."

 -MIP (15/08/14 22:05)

Karena Kamu Mencintai

Ketika usahamu tak lagi dihargai, mungkin itulah saatnya kau pergi
Saat perhatianmu tak di anggap, mungkin itu adalah saat dimana kamu harus berhenti mendekap
Saat kekhawatiranmu di sia-siakan, mungkin itu waktunya kamu untuk melepaskan
Biarkan semua berhenti walau sejenak, agar semua tak bergerak
Biarkan perasaan itu mengalir, agar hatinya dapat mencair
Supaya ia mengerti bahwa usahamu perlu dihargai
Bahwa perhatianmu tulus sepenuh hati
Dan kekhawatiran-kekhawatiran itu memang murni
Karena kamu mencintai 

Selasa, 05 Agustus 2014

Pena&Kertas

Saat tak satu orang pun mengerti perasaanmu
Saat tak seorang pun paham dengan perkataanmu
Jika tidak ada orang yang dapat mengartikan maksudmu
Maka bernyanyilah dalam tulisan
Goreskan pena diatas kertas
Biarkan tanganmu mengikuti lantunan kata perkata dari hatimu
Agar setidaknya, ada juga yang mengertikanmu, walau hanya sebatas pena dan kertasnya

Random. #part2

Seperti metari pagi yang bersinar sendiri, aku hanya ingin menepi. Mencari apa yang hilang, dari angan yang melayang.
Seperti rembulan malam yang tak bersinar, aku berlari mengejar. Menangkap apa yang terlepas, dari harapan yang terhempas.
Layaknya ombak yang mengombang-ambingkan perahu nelayan, hati ini mulai goyah dengan sedikit luka yang lagi-lagi menganga.
Selagi aku berusaha meneguhkan penutup luka ini, jangan biarkan keraguan terus menjelma dalam hati.
Seandainya semua tak terjamahi, maka biarkan aku menyusunnya sendiri.
Untuk mengingat bahwa aku tak perlu menggantungkan hidup padamu. Dan tak jua perlu kau sanggah hidupku dengan kaki kecilmu.
Karena suatu saat nanti, suka tidak suka, jika Tuhan berkata tidak, tak pula kita bisa menolaknya.
 

Template by BloggerCandy.com