[]
Kamu ciptaan-Nya yang indah dengan bola mata hitam pekat nan tajam.
Kamu seraya mawar yang diindahkan banyak insan, tetapi kamu tetap terjaga.
Kamu layaknya bulan yang menerangi bumi dalam kegelapan.
Kamu seperti pohon rindang yang menyejukkan.
[]
Senyumnya pagi ini memberiku bermilyar energi untuk tetap tersenyum dan semangat belajar, walaupun aku tau senyum itu bukan untukku. Tapi, dia tetap menjadi alasan mengapa aku semangat menjalani hari-hariku. Andai dia tau, disini aku memerhatikannya. Dan andai dia tau bahwa aku menyukainya layaknya kupu-kupu menyukai bunganya. Sudahlah. Aku hanya berandai-andai untuk dapat mendekapnya.
[]
Hari-hari berlalu. Aku terus memerhatikannya dengan sembunyi-sembunyi, dan aku yakin dia pun tak akan menyadarinya. Siang itu saat dia menghampiriku dan mengajakku bertemu di taman belakang sekolah, ini adalah pertama kalinya aku berbicara empat mata dengannya. Canggung. Ya. Aku canggung berada didekatnya. Tatapan mata yang tajam membuatku tak dapat berbuat apa-apa. Suara lembut yang mengawali pembicaraan itu membuatku benar-benar luluh.
"Aku sering melihatmu diam-diam memerhatikanku. Ada apa dengan kamu?" Hap. Ternyata dia menyadarinya. Ah diam benar-benar mengetahuinya.
"Apa? Ha? Aku memerhatikanmu? Kurasa tidak." Aku benar-benar tersipu malu. Pipiku berubah menjadi merah merona.
[]
Perbincangan kami berlanjut ke telepon dan sms. Akhirnya kita saling mengenal satu sama lain. Ia tau bahwa aku menyukainya dan aku pun tau bahwa anganku untuk memilikinya bukan hanya sekedar angan. Ya. Kini aku dapat mendekapnya.
Hari-hari kami jalani dengan indah dan sempurna. Seindah dan sesempurna cinta kami berdua.
Kalian tau? Kami berdua sangat saling menjaga dan sangat saling menyayangi. Hampir tidak ada pertengkaran di bulan-bulan pertama kami menjalin kasih.
[]
Hari ini tepat 8 bulan kami menjalin hubungan. Aku akan pergi makan malam di sebuah restoran. Betapa bahagianya aku hari ini, kawan~
Jam berdenting. Tepat. Jam 7 malam. Aku bergegas menuju restoran dengan taksi yang telah kupesan. Sepanjang jalan aku bernyanyi dengan hati riang gembira.
Tiba-tiba gelap...Semua gelap...
Aku tersadar dan aku merasa sangat pusing. Disampingu sudah ada mama dan....Dia.
Dia ada disini.
Mama menceritakan semua kejadian yang menimpaku. Ternyata taksi yang kutumpangi ditabrak tiba-tiba oleh sebuah mobil sedan. Pak sopir itu meninggal seketika di tempat kejadian. Dan aku berhasil diselamatkan lalu segera dibawa ke rumah sakit.
Aku shocked. Kakiku terasa nyeri. Kakiku....Kakiku....Kakiku teramputasi. Ya Tuhan, aku baru saja kehilangan anggota tubuhku. Aku menangis sejadi-jadinya. Mama berusaha menenangkanku. Tapi dia...membisu. Tak menghiraukan jerit tangisku. Mengapa sedaritadi ia diam saja begitu.........
Aku berhenti menangis. Aku tenangkan diriku. Namun aku belum bisa menerima semua ini. Aku rapuh~
Dua hari di rumah sakit cukup untukku beristirahat. Sekarang aku bisa kembali pulang. Ditemani mama yang setia berada disampingku, yang selalu menyemangatkanku. Dan dia yang......masih saja membisu.
Sepanjang jalan, dia masih saja membisu. Aku pun memulai untuk bertanya.
"Kamu kenapa diam saja dari kemarin?"
Dia diam. Dan tetap diam. Hanya menggeleng lalu tersenyum. Aku putuskan untuk ikut diam. Mama yang pun ikut diam.
Kuulang lagi pertanyaan itu saat kami sampai dirumah. "Aku hanya sedang berpikir" katanya.
"Berpikir tentang apa?"
"Tentang...."
"Tentang kecacatanku?"
"Tidak. Tidak. Bukan tentang kakimu. Tetapi tentang kita"
Aku bungkam. Ia bungkam. Kami membisu.
Lama. Cukup lama.
"Aku pulang dulu ya. Besok aku kesini lagi" Senyum manis itu tidak hilang. Tetap ada di bibirmu.
[]
Esok harinya....
Dia benar-benar datang. Membawakanku mawar merah dan coklat kesukaanku.
Dia kembali. Kembali menjadi dia yang dulu. Bukan dia yang kemarin.
Dia menerima kekuranganku. Dia tetap mencintaiku dengan segala kekurangan ini.
Tuhan~ begitu besar anugerah yang kau beri untukku. Terima kasih.
[]
Satu setengah tahun kami menjalankan hubungan ini. Baik-baik saja. Sampai hari ini, saat ia menghilang. Entah kemana.
Berkali-kali aku mencoba menghubunginya tetapi....nomornya tidak bisa kuhubungi.
Aku bertanya-tanya dalam hati. Aku berpikir kemana kamu dan dengan siapa kamu sekarang.
Sudah malam. Sangat malam. Ini sudah larut malam.
Dia baru menghubungiku. Dan malam ini aku benar-benar rapuh~
"Kita cukup sampai disini." Hanya itu kata-katanya. Lalu telepon terputus. Sedikit-sedikit airmata ini menetes, kemudian meledak. Tangisku meledak!
[]
"Apa arti semua cinta yang indah dan sempurna?
Apa arti semua kasih sayang dan perhatian?
Apa arti satu setengah tahun ini?"
Kukirim pesan itu dan....tidak ada balasan.
2 jam berlalu. Handphone-ku berbunyi. Dia membalasnya.
"Aku telah mendapatkan seorang wanita yang lebih baik darimu. Lebih sempurna darimu. Dan lebih segala-galanya darimu."
Itu balasannya. Aku terdiam sesaat, lalu menangis. Lagi.
Kini.... Aku benar-benar rapuh.






.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)

.jpg)













































