kalian masih suka kebayang bayang kenangan bareng mantan?
galau terus gara-gara mantan?
sedih tiap kali inget mantan?
yuk simak, aku ada tips nih buat kalian....
pertama-tama kalo mau move-on, kamu harus "yakin" kalo kamu bisa move-on, karena "yakin" itu adalah kunci dr semua hal yg mau di lakuin. kamu harus bener bener ngeyakinin dirikamu kalo kamu bisa hidup tanpa mantan kamu lagi.
kedua, hapus semua sms dr mantan. hapus/buang/bakar semua foto mantan. kaloemang gamau, yaaa simpen ditempat tempat yg jarang kamu liat, misalnya, di lemari dibawah baju baju kamu, atau di bawah kasur, atau kamu save di folder PC/Laptop kamu. pokoknya.... jangan liat foto kalian duludeh, liatnya nanti nanti aja.
cari kegiatan yg bener bener bikin kamu sibuk, misalnya ikut organisasi di sekolah/universitas kamu. ikut kegiatan kegiatan yg nantinya pas sampe rumah kamu bakalan langsung capek dan gainget lagi sm kesedihan kamu.
masih belum bisa lepas dr mantan? yuk cari temen cowo yg banyak. eits.. inget ya, harga diri harus di pertahankan, jangan jadi murahan di depan cowo. kamu boleh deket sm temen cowo kamu, tapi kamu harus bisa jual mahal, kalo emang mereka ada yg tetep ngejar kamu walaupun kamu udah jual mahal, itu tandanya dia cowo yg bakalan gantiin mantanmu (mungkin).
segini duluya tipsnya, yg lain bisa menyusul. keep fighting for move-on!
Selasa, 24 Januari 2012
MALAIKATKU
Kumandang
adzan subuh membangunkan aku dari mimpi buruk itu. Sudah tiga kali
berturut-turut kudapati mimpi itu ditiap tidurku. Bergegas kuambil air wudhu
dan tenggelam dalam isak tangis saat bersujud. Masih terngiang ditelingaku teriakkan
adik kecilku dan suara tangisan ibu yang tersedu-sedu karena bapak pergi
meninggalkan aku, ibu, serta adikku yang masih balita. Ia pergi entah kemana,
bersama istri barunya.
Setelah kepergian bapak, segala urusan
kepala keluarga diambil alih oleh Ibuku. Beliau bekerja apa saja yang penting
halal dan dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, serta biaya
sekolahku. Terkadang, ibu menjadi buruh cuci di rumah tetangga, Ibuku juga ahli
dalam bidang menjahit, banyak tetangga yang memanfaatkan keahlian Ibuku,
satu-satunya barang berharga dirumah kami adalah mesin jahit kepunyaan ibu,
kami tidak punya televisi, bahkan radio. Ibu juga ahli dalam bidang
masak-memasak, ibu memasak macam-macam makanan atau hanya sekedar kue basah untuk
di titipkan di warung-warung dekat rumah.
Aku bukan anak seorang pengusaha kaya
seperti temanku, Ria. Orangtuanya adalah pengusaha sukses di Ibukota. Namun,
Ria seolah tak pernah puas dengan apa yang di milikinya. Terkadang aku menangis
di hadapan Allah, “Mengapa harus dia yang tidak pernah bersyukur kepadamu atas
nikmat yang engkau berikan? Mengapa bukan aku yang akan terus-menerus bersyukur
kepadamu?” jerit hatiku lirih.
Hari itu seluruh murid kelas XII.IPA-3 sibuk
mengerjakan PR Kimia, tapi tidak dengan aku, aku sibuk menyelesaikan membaca
novel karya Andrea Hirata. Tiba-tiba Ria mendekat, “Dindaaaa, pijem PR Kimianya
dong, nanti siang aku teraktir mie ayam deh”. Belum sempat aku menjawab, nona
manja ini sudah membuka tasku dan mengambil buku kimia milikku. Seketika
seluruh kelas bergerombolan mendekati meja Ria dan mereka semua menyalin
pekerjaanku dengan santai.
20 menit berlalu dan sekarang buku itu ada
di tanganku dengan keadaan yang sangat tidak layak disebut sebagai buku seorang
pelajar. Bukuku rusak, lusuh, dan kusut. Saat itu juga aku langsung menunduk
dan menutup mukaku dengan tangan.
“Kamu kenapa Din?” suara itu, aku hapal
benar siapa pemilik suara merdu itu. Ya, dia sahabatku, Nadia. Dia orang yang
setia dan tulus berteman denganku. Bukan karena dia memanfaatkan aku tapi
karena dia benar-benar percaya kepadaku bahwa aku adalah seseorang yang
istimewa, itu ungkapannya saat aku bertanya mengapa.
Kutegakkan kepala serta badanku. Kuhapus air
mata di pipiku. Dan dengan lantang aku berkata “I’m FineJ” walaupun
aku tau ia akan bertanya terus-menerus kepadaku sampai akhirnya aku mau
menceritakan masalahku kepadanya.
“Ga usah di tutup-tutupin gitu, kalau kamu
ada masalah, cerita aja sama aku”. Tangisku meluap saat aku menceritakan kepada
Nadia tentang perbuatan Ria dan teman-teman di kelas. Nadia menenangkanku dan
mendekap hangat tubuhku yang gemetar karena tangis.
Nadia
marah, ia geram melihat tingkah laku Ria dan teman-temannya terhadap diriku.
“Udah, udah jangan nangis lagi Din. Biar nanti kuberi pelajaran mereka semua”
Nadia langsung berdiri dari kursinya, sontak aku kaget dan segera ku tarik
tangannya, “Ga usah Nad, biarkan mereka seperti itu. Aku sudah ikhlas. Kan
hanya bukuku aja yang rusak, nanti bisa diperbaiki” senyumnya mengembang dan ia
kembali duduk disampingku.
Senang
rasanya memiliki sahabat seperti Nadia, dia orang yang tidak pernah memandang
derajat jika berteman, dia mau kuboyong kerumahku yang sempit dan kecil di
kampung yang kumuh. Dia tidak pernah malu mengajakku pergi jalan-jalan ke mal
walaupun baju yang kukenakan tidak layak untuk dipakai di mal. Oh....
Sahabatku... Betapa cantiknya paras serta hatimu.
Acara
wisuda kelas XII sebentar lagi akan di laksanakan. Aku sedih, Nadia akan
melanjutkan kuliahnya ke Australia. Dan aku? Entahlah. Mungkin cukup sampai
disini. Aku akan bekerja membantu ibu membiayai kebutuhan rumah tangga.
“Eh,
lo semua tau ga kalo baju wisudaan gue belinya dimana?” suara lantang Ria
mengagetkan aku dan Nadia yang sedang asik melihat –lihat isi majalah.
“Emang
belinya dimana, Ri?” salah satu teman kelasku menyeletuk.
“Di
Singapura doooong. Kalian harus liat nanti” katanya, pamer.
“waaaah
pasti lo cantik banget deh nanti Ri” Anton yang terkenal playboy ikut
ambil suara.
“Iyalah
pastinya. Secara gitu loh baju punya gue mahal. Belinya di Singapur, emangnya
baju punya temen kita yang itu, cuma jahit rumahan. Ga selevel deh sama yang
punya gue. Hahaha” aku terdiam. Aku tau dia meledekku. Seluruh kelas tertawa.
Meja
digebrak dan seketika seisi kelas terdiam. “Ria! Mau apa sih kamu itu? Setiap
hari mengejek Dinda. Setiap hari menyalin PR Dinda. Sadar dong! Jangan berasa
dewa deh di sini. Jangan pernah memamerkan kekayaanmu! Itu bukan punyamu tapi
puya orangtuamu! Dan sadarlah. Halal kah uang dari orangtuamu? Jangan pernah
mengejek Dinda lagi. Akan kulaporkan semua perbuatanmu ke Pak Zen” selesai
berbicara Nadia langsung menarik tanganku dan membawaku ke kantin. Lagi-lagi
dia membuatku tenang dan nyaman. Terimakasih sahabatku...
Sudah
dari jauh-jauh bulan ibu mempersiapkan baju untuk kupakai di acara wisuda
nanti. Baju kebaya berwarna ungu muda menjadi plihannya, “cocok dengan kulitmu
yang putih” kata ibu. Ia mendesain bajuku dengan apik. Indah sekali.
Menunggu
acara wisuda membuat hari-hariku semakin gelisah. Aku takut benar-benar
kehilangan sahabat terbaikku. Dan aku takkan dapatkan lagi sahabat yang seperti
dia.
H-4
acara wisuda akan di laksanakan, aku berada di rumah sakit. Dua hari dua malam
aku di sini, enggan rasanya membuka mata untuk sekedar menyapa orang disekitar.
Kecelakaan dahsyat itu membuat ibu menangis tiap malam dalam sujudnya. Memohon
agar aku diberikan keajaiban untuk bangun dan mengikuti acara wisuda.
Ternyata
orang yang menabrakku adalah Ria. Ya. Dia yang mengendarai mobil dengan
kecepatan tinggi karena ia sedang di landa masalah saat itu. Perusahaan ayahnya
bangkrut dan ibunya tak pernah lagi mendapat job sebagai model. Ia tinggal di
sebuah kontrakan kecil. Semua harta benda yang mewah habih di ambil oleh orang
penagih hutang.
Ibu
menangis dalam tahajudnya, meminta dan memohon kepada Allah dan aku punya
membuka mata. Di sampingku ada dua orang yang tak lagi asing untukku. Nadia
sahabataku, dan... Ria. Ha? Ria? Dia di sini menemaniku?
“Dinda...
maafkan aku” katanya sambil tersedu-sedu.
Nadia
menceritakan semuanya kepadaku. Ibu pun bangun dari sajadahnya setelah sujud
syukur dan langsung memelukku. Semua yang ada diruangan ini menangis. Menangis
bahagia.
“I...ibu...
berikan baju yang ibu buatkan untukku kepada Ria. Biarkan dia yang memakainya
di acara wisuda. Dia akan terlihat lebih cantik nantinya” kataku terbata sambil
tersenyum menyembunyikan kesedihan.
“Kenapa
gitu Din?” tanya Ria kepadaku dengan heran.
“ga
apa-apa kamu lebih pantas pakai baju itu Ri” senyumku mengembang.
“Terimakasih
atas semua yang telah kalian berikan kepadaku. Kalian malaikatku...” itu kata
terakhirku sebelum akhirnya aku menutup mataku dan tak membukanya lagi. Ibu,
Nadia, dan Ria yang menemaniku malam ini menangis sambil memeluk tubuhku.
Aku
pergi meninggalkan kehidupan ini dengan senyum bahagia. Acara wisuda itu
akhirnya di gelar tanpa diriku. Aku melihat Ria memakai bajuku, cantik. Ya, dia
cantik memakai baju ungu muda itu. Seluruh hadirin acara wisuda itu menangis
saat Ria membaca puisi untukku di iringi suara gitar yang halus dari Nadia.
Usai Ria membaca puisi, backsound lagu ST-12 yang berjudul ‘Saat Terakhir’ di
putar. Semua kembali menangis.
Dari
sudut belakang aku tersenyum melihat semuanya menangis. Terima kasih, kalian
begitu banyak memberiku pelajaran akan hidup. Kalian memberiku sejuta arti cinta
dalam kehidupan. Ibu... Nadia... Ria... kalian MALAIKATKU
Langganan:
Postingan (Atom)