2014
Done. . . .
Masih terbayang bagaimana keindahan fireworks awal tahun 2014 yang lalu
Dan masih terngiang di telinga kata-kata indahmu dahulu
Tentang harapan-harapan yang harus kita wujudkan
Serta kebersamaan yang harus kita jalankan
Semua kenangan itu tersimpan rapi dalam memori diotakku
Cerita tentang kesenangan serta kesedihan yang terjadi dalam 365 hari dihidupku
Perihal warna yang telah dicoretkan dalam buku jurnalku
Dan tentang senyum yang beriringan dengan air mataku
Engkau hadir di lembar pertama
Menghapus kesedihan
Kemudian kau pergi begitu saja
Meninggalkan serpihan keputusasaan
Waktu berjalan amat cepat
Tidak. Ia tidak lari
Hanya saja kita yang mendekat
Mencari sebongkah senyum untuk sendiri
Kini lembar ke 365 sudah usai kuisi
dengan kebahagiaan karena ada dia disisi
Entah dengan cara apa kujelaskan rasa ini
Rasanya indah bersamamu disini
Di malam pergantian tahun
Malam dengan langit yang cerah
Serta suara gemuruh
Semua bersorak sorai melukiskan kegembiraan
Terima kasih, 2014
Untuk segala bentuk pelajaran yang telah kau berikan
Terima kasih untuk yang pernah datang lalu menghilang, untuk yang pergi kemudian kembali, dan untuk yang tetap tinggal disini
Rabu, 31 Desember 2014
Rindu
Kugantungkan harapan-harapan itu di atas awan yang mendung
Bagaimana caraku menjelaskan setiap detail rasa yang tak berwujud?
Bagaimana pula dapat kuartikan satu demi satu perasaan yang tak terbaca?
Agar kau tau, bahwa rindu ini sudah mencapai puncaknya
Bahwa hasrat pertemuan ini sudah tak bisa kutahan
Dan impian berjumpa yang entah kapan akan terwujudnya
Sudahlah. Mungkin harapan hanya bergantung di awan hitam
Atau mungkin doa itu hanya tertulis di awan kelam
Tanpa ada yang melihat atau bahkan membacanya
Kutuliskan doa-doa pada langit yang gelap
Kutitipkan salam-salam pada angin yang berhembus
Semoga saja mereka membawanya kepadamu
Entah harus seperti apa lagi rasa ini diungkapkan
Semacam..... Rindu yang tak berujung
Mencari setitik cahaya agar sampai pada tuannya
Namun tak pula kunjung datang kepadamu
Bagaimana caraku menjelaskan setiap detail rasa yang tak berwujud?
Bagaimana pula dapat kuartikan satu demi satu perasaan yang tak terbaca?
Agar kau tau, bahwa rindu ini sudah mencapai puncaknya
Bahwa hasrat pertemuan ini sudah tak bisa kutahan
Dan impian berjumpa yang entah kapan akan terwujudnya
Sudahlah. Mungkin harapan hanya bergantung di awan hitam
Atau mungkin doa itu hanya tertulis di awan kelam
Tanpa ada yang melihat atau bahkan membacanya
Langganan:
Postingan (Atom)