"Untuk apa memiliki tapi tak saling mengasihi?"
"Apa maksudmu? Jadi kamu menuduhku kalau aku tidak menyayangimu? Lebih baik kita berhenti disini. Aku letih. Kamu terlalu egois!" suaranya menggelegar. Seketika airmata yang kutahan sejak tadi terjun bebas meluncur kepipiku yang merona.
Aku hanya menggeleng. Sesak. Aku terisak.
Dia meninggalkanku sendiri disini. Taklagi peduli denganku rupanya.
Aku pulang. Sendiri. Masih terisak.
Terkejut. Aku terkejut. Dia sudah ada dirumahku, menunggu kepulanganku dengan cemas.
Dia menggenggam tanganku dengan erat. Aku berusaha melepas, tapi aku tak berdaya.
"Maafkan aku" katanya merintih.
Aku tak bersua. Masih berusaha memberontak untuk melepaskan genggaman itu.
"Maafkan kata-kataku tadi. Aku terlalu emosi. Maafkanlah."
"Kamu terlalu menyakitiku. Saat aku benar-benar mencintaimu, tapi kamu malah seperti ini. Tak ada lagi rasa untukmu. Kau letih. Akupun juga. Pergi!" Aku mengusirnya dengan tak indah. Tangisku meledak sejadi-jadinya.
Dia masih berusaha membujukku. Namun tak lagi kuhiraukan. Aku masuk kekamarku dan membanting pintunya.
Terdengar sayup-sayup Mamaku mempersilahkan dia pergi dengan lebih sopan daripada aku menyuruhnya pergi. Tunggu. Aku bukan menyuruhnya, tapi 'mengusirnya'. Kejam memang. Tapi biarlah. Peduli apa dengannya.
Berhari-hari setelah kejadian itu, aku kembali bertemu dengannya disebuah kafe.
Lelaki itu sedang bersama wanita. Oiya, sejak kejadian itu, aku lebih suka memanggilnya 'lelaki'. Entah wanita yang bersama lelaki itu siapa. Aku tak tau dan memang tak mau tau.
Kuperhatikan mereka sedang bertengkar.
"Kamu lihat apasih?" suara itu mengagetkanku. Ya, itu suara sahabatku.
Dia yang selalu ada saat aku suka maupun duka.
Dia yang selalu membantuku bangun ketika aku terjatuh.
Dan dia yang selalu mendekapku saat aku merintih.
"Oh, lelaki itu. Sudahlah. Ayo kita cari tempat, katanya kamu sudah lapar."
Perhatiannya selalu membuatku luluh. Aku tersenyum lalu segera mengikutinya.
"Kamu gausah mikirin dia lagi lah beib. Kan udah ada aku." Ia menyengir kuda. Manis sekali.
Dia bukan pacarku. Dia sahabatku. Sahabat yang selalu ada untukku.
Dia....teman setiaku.
Indahnya cintaku dengan 'dia'. Lebih indah daripada cintaku dengan 'lelaki itu'
Terimakasih Tuhan untuk cinta yang sejati ini....