Pages

Kamis, 21 November 2013

terima kasih

terima kasih kepada kamu yang telah membenciku.
karena dengan sikapmu itu, aku dapat belajar dan memperbaiki diri.
semoga ini bisa membuatku menjadi lebih baik.
dan lebih dewasa, tentunya:)

Jumat, 15 November 2013

Sepenuhnya

Mengapa tidak kau beri ia celah untuk merasakan aliran darahmu. Agar ia tau perasaanmu kepadanya. Sama atau tidak? Ia mencoba. Terus mencoba memahamimu. Tapi, rasanya semua percuma. Karena kau, tak pernah memberi kesempatan kepadanya untuk setidaknya, sedikit saja merasakan rasa itu darimu.

Rasa takut tak bisa menyentuhmu
Rasa takut tak bisa menggenggammu
Rasa takut tak bisa bersadar dipundakmu yang kokoh
Rasa takut akan kehilangan
Rasa takut akan rasa yang tak terbalaskan

Karena ia, seseorang yang tak mudah menerima cinta, sampai akhirnya kau datang, dan meyakininya.
Tetapi, perlakuan dan sikap itu membuatnya ragu
Takut kekecewaan yang dulu, muncul lagi
Takut lukanya yang hampir kering, basah lagi
Takut awan hitam yang dulu mengikutinya, datang lagi

Maka, berikan ia celah untuk mengenalmu. Memahamimu. Sepenuhnya.

Kamis, 14 November 2013

Sisa Hujan Semalam

Hujan sisa semalam memang sudah reda. Sama seperti air mata di pelupuk seseorang itu. Tetapi, hujan masih menyisakan genangan air di jalan-jalan. Sama seperti sakit yang dirasakan seseorang itu, masih ada.

Hujan Bersama Seseorang

Sudah lebih dari sepekan rasanya cuaca seperti ini. Pagi cerah. Siang terik. Petang hujan. Bahkan sampai malam. Terus begitu sampai detik ini, aku menulis. Dan mungkin sampai detik dimana kamu sedang membaca tulisan ini. Cuaca selalu berubah-ubah. Sama seperti perasaan seseorang. Berubah-ubah. Kadang bahagia, lalu tiba-tiba menangis. Atau sebaliknya. Ya, begitulah kuartikan cuaca.

Entah ini fakta atau hanya sekedar opini semata. Ada sesuatu yang tersirat kala air hujan turun gemericik. Seperti alunan lagu yang menghipnotis. Hujan membawa inspirasi. Hujan membawa gundah. Tak jarang, hujan membawa air mata ikut serta membanjiri pelupuk mata seseorang.

Izinkan aku bercerita sedikit tentang 'Hujan Bersama Seseorang' ........

Bersama hujan seseorang yang kusebut tadi tergopoh berlari. Berusaha menghindar, namun sia-sia. Hujan tetap mengejarnya. Gemuruh petir tetap menyambar bersautan. Entah sudah seberapa jauh seseorang itu berlari sembari menahan sesuatu yang telah sampai di kerongkongan, mungkin seperti teriakan yang tertahan dan berujung pada air mata. Iya, dia menangis bersama hujan. Dadanya sesak penuh kekecewaan. Matanya perih penuh kesedihan.

Tak lagi dapat ia jelaskan bagaimana perasaannya sekarang, atau apa alasan pipinya basah? Bukan. Jelas bukan karena hujan. Karena sesuatu yang terlalu menyakitkan. Hingga ia tak dapat berkata, apa yang menyakitkan? Jawabnya, entahlah.

Hujan tau seseorang itu butuh pelukan. Butuh tempat untuk bersandar. Tetapi, hujan menunjukan dengan cara yang salah. Hujan malah menghantam seseorang itu bertubi-tubi ditambah lagi dengan petir yang menyambar. Seharusnya hujan sedikit saja memberinya celah untuk bersandar, agar ia tak lagi sesegukan. Hujan salah memperlakukannya. Hingga akhirnya, ia benci dengan hujan.

Seseorang itu benar-benar tak bisa berhenti membenci hujan. Membenci gemuruh petir yang membuat dadanya semakin sesak. "Sudah kecewa, ditambah kesal pula" katanya. Membenci suara hujan yang jatuh ke tanah. "Mengingatkan pada kekecewaan itu saja!" hardiknya.

Kini, ia benar-benar tak suka pada hujan.
Karena hujan mengambil yang ia miliki.
Karena hujan merusak yang ia punya.
Karena hujan membiarkan air matanya mengalir.
Padahal, hujan punya rencana untuk seseorang itu.
Lantas, akankah hujan mengajak seseorang itu menari? Tanpa air mata, tentunya.
 

Template by BloggerCandy.com