Sudah lebih dari sepekan rasanya cuaca seperti ini. Pagi cerah. Siang terik. Petang hujan. Bahkan sampai malam. Terus begitu sampai detik ini, aku menulis. Dan mungkin sampai detik dimana kamu sedang membaca tulisan ini. Cuaca selalu berubah-ubah. Sama seperti perasaan seseorang. Berubah-ubah. Kadang bahagia, lalu tiba-tiba menangis. Atau sebaliknya. Ya, begitulah kuartikan cuaca.
Entah ini fakta atau hanya sekedar opini semata. Ada sesuatu yang tersirat kala air hujan turun gemericik. Seperti alunan lagu yang menghipnotis. Hujan membawa inspirasi. Hujan membawa gundah. Tak jarang, hujan membawa air mata ikut serta membanjiri pelupuk mata seseorang.
Izinkan aku bercerita sedikit tentang 'Hujan Bersama Seseorang' ........
Bersama hujan seseorang yang kusebut tadi tergopoh berlari. Berusaha menghindar, namun sia-sia. Hujan tetap mengejarnya. Gemuruh petir tetap menyambar bersautan. Entah sudah seberapa jauh seseorang itu berlari sembari menahan sesuatu yang telah sampai di kerongkongan, mungkin seperti teriakan yang tertahan dan berujung pada air mata. Iya, dia menangis bersama hujan. Dadanya sesak penuh kekecewaan. Matanya perih penuh kesedihan.
Tak lagi dapat ia jelaskan bagaimana perasaannya sekarang, atau apa alasan pipinya basah? Bukan. Jelas bukan karena hujan. Karena sesuatu yang terlalu menyakitkan. Hingga ia tak dapat berkata, apa yang menyakitkan? Jawabnya, entahlah.
Hujan tau seseorang itu butuh pelukan. Butuh tempat untuk bersandar. Tetapi, hujan menunjukan dengan cara yang salah. Hujan malah menghantam seseorang itu bertubi-tubi ditambah lagi dengan petir yang menyambar. Seharusnya hujan sedikit saja memberinya celah untuk bersandar, agar ia tak lagi sesegukan. Hujan salah memperlakukannya. Hingga akhirnya, ia benci dengan hujan.
Seseorang itu benar-benar tak bisa berhenti membenci hujan. Membenci gemuruh petir yang membuat dadanya semakin sesak. "Sudah kecewa, ditambah kesal pula" katanya. Membenci suara hujan yang jatuh ke tanah. "Mengingatkan pada kekecewaan itu saja!" hardiknya.
Kini, ia benar-benar tak suka pada hujan.
Karena hujan mengambil yang ia miliki.
Karena hujan merusak yang ia punya.
Karena hujan membiarkan air matanya mengalir.
Padahal, hujan punya rencana untuk seseorang itu.
Lantas, akankah hujan mengajak seseorang itu menari? Tanpa air mata, tentunya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar