2014
Done. . . .
Masih terbayang bagaimana keindahan fireworks awal tahun 2014 yang lalu
Dan masih terngiang di telinga kata-kata indahmu dahulu
Tentang harapan-harapan yang harus kita wujudkan
Serta kebersamaan yang harus kita jalankan
Semua kenangan itu tersimpan rapi dalam memori diotakku
Cerita tentang kesenangan serta kesedihan yang terjadi dalam 365 hari dihidupku
Perihal warna yang telah dicoretkan dalam buku jurnalku
Dan tentang senyum yang beriringan dengan air mataku
Engkau hadir di lembar pertama
Menghapus kesedihan
Kemudian kau pergi begitu saja
Meninggalkan serpihan keputusasaan
Waktu berjalan amat cepat
Tidak. Ia tidak lari
Hanya saja kita yang mendekat
Mencari sebongkah senyum untuk sendiri
Kini lembar ke 365 sudah usai kuisi
dengan kebahagiaan karena ada dia disisi
Entah dengan cara apa kujelaskan rasa ini
Rasanya indah bersamamu disini
Di malam pergantian tahun
Malam dengan langit yang cerah
Serta suara gemuruh
Semua bersorak sorai melukiskan kegembiraan
Terima kasih, 2014
Untuk segala bentuk pelajaran yang telah kau berikan
Terima kasih untuk yang pernah datang lalu menghilang, untuk yang pergi kemudian kembali, dan untuk yang tetap tinggal disini
Rabu, 31 Desember 2014
Rindu
Kugantungkan harapan-harapan itu di atas awan yang mendung
Bagaimana caraku menjelaskan setiap detail rasa yang tak berwujud?
Bagaimana pula dapat kuartikan satu demi satu perasaan yang tak terbaca?
Agar kau tau, bahwa rindu ini sudah mencapai puncaknya
Bahwa hasrat pertemuan ini sudah tak bisa kutahan
Dan impian berjumpa yang entah kapan akan terwujudnya
Sudahlah. Mungkin harapan hanya bergantung di awan hitam
Atau mungkin doa itu hanya tertulis di awan kelam
Tanpa ada yang melihat atau bahkan membacanya
Kutuliskan doa-doa pada langit yang gelap
Kutitipkan salam-salam pada angin yang berhembus
Semoga saja mereka membawanya kepadamu
Entah harus seperti apa lagi rasa ini diungkapkan
Semacam..... Rindu yang tak berujung
Mencari setitik cahaya agar sampai pada tuannya
Namun tak pula kunjung datang kepadamu
Bagaimana caraku menjelaskan setiap detail rasa yang tak berwujud?
Bagaimana pula dapat kuartikan satu demi satu perasaan yang tak terbaca?
Agar kau tau, bahwa rindu ini sudah mencapai puncaknya
Bahwa hasrat pertemuan ini sudah tak bisa kutahan
Dan impian berjumpa yang entah kapan akan terwujudnya
Sudahlah. Mungkin harapan hanya bergantung di awan hitam
Atau mungkin doa itu hanya tertulis di awan kelam
Tanpa ada yang melihat atau bahkan membacanya
Selasa, 25 November 2014
Fiktif
Kamu pernah memintaku bertahan
Namun kau mengecewakan
Kamu pernah membuatku percaya
Namun tak bisa kau jaga
Kamu pernah memohon agar aku tetap disini
Namun kau perlahan pergi
Lantas, apa arti dari sebuah ikrar yang pernah terucap?
Tentang kebersamaan yang dipenuhi harap
Tentang kehangatan saat mendekap
Dan tentang kesetiaan yang tak terungkap
Lalu, akankah semua ini berakhir begitu saja?
Membiarkan hati ini tergores luka
Membiarkan harapan ini tak bermakna
Membiarkan kebahagiaan ini sirna
Dan menjadikan cerita ini fiktif belaka
Sabtu, 22 November 2014
Senja di Kota Jogja
Senja datang di Kota Jogja
Kota dengan seribu kenangan manis
Kota yang dengan ikhlas mengukir ceritaku&dia
Padahal senja sedang meringis
•
Jogja,
Petangmu membawakanku kisah yang tak mungkin kulupa
Tentang angin yang berhembus di sela-sela jemariku&dia
Menggoreskan kisah ditiap aspal yang telah kupijaki bersamanya
Membiarkan senyum ini merekah ditiap detiknya
Terima kasih, Jogja
Untuk hangatnya petangmu yang tak lagi bisa kurasakan bersamanya
Terima kasih, Jogja
Untuk segala cerita yang sudah rela kau tampung
Untuk setiap kisah manis yang akan kukenang
Dan untuk sosok dia yang kusayang
Selasa, 14 Oktober 2014
Cahaya untuk bunga
Aku pernah bertanya kepada langit malam tentang perasaan ini.
Perasaan yang telah lama hilang, kemudian datang lagi.
Perasaan yang dulu telah dicampakkan, lalu terbuai kembali.
Perasaan yang tak bisa kudustai, ternyata masih mengiringi.
Menguak tabir yang sudah lama tertutup, bersembunyi dalam kesendirian.
Menyadari bahwa perasaan ini tak benar-benar hilang dalam kesepian.
Membuka mata hati yang sudah lama terkunci dalam keasaan.
Menghampiri penantian yang sudah lama menghilang dari peradaban.
Duhai engkau yang telah menyakiti,
Mengapa harus kembali?
Membuat hati ini kian terbuka lagi.
Padahal janji tak ingin menerima lagi.
Setelah kau hancurkan bintangku dengan cahaya bulanmu
Kini kau datang hingga membuatku membisu
Haruskah aku terima hadirmu?
Saat hati ini masih melepuh terkena percikkan apimu dulu
Tak dapat kutolak rayu mautmu
Kuterima kau kembali dirumahku
Rumah lusuh dengan luka pilu
Akibat kamu dihari dulu
Kuemban senyum lebar di wajah yang memerah
Ternyata langit kita masih indah
Tak pernah membuatku resah ataupun gundah
Aku selalu ingin disampingmu agar bunga-bungaku selalu merekah
Tetapi, apa daya jika cahayaku tak secerah cahayanya
Taman bungaku tak semewah kepunyaannya
Dan aku selalu di olok-olok olehnya
Membuatku terusik mendengarnya
Bisakah kau bantu aku menerangi rumah ini? Rumah yang sedang kau singgahi, agar ia tau bahwa kau sudah ditempatku.
Dapatkah kau berikan pupuk-pupuk pada bunga-bungaku? Bunga yang akan menghiasi pekarangan hatimu, agar ia tau bahwa kau bahagia bersamaku.
Namun, bilamana kau tak sanggup, maka berhentilah sekarang. Berbaliklah. Palingkan wajahmu, kemudian pergi.
Biarkan aku yang menyinari rumah ini dengan energiku sendiri.
Biarkan aku yang memupuki dan menyirami bunga-bunga itu agar selalu mekar dan memberikan senyum merekah.
Pulanglah. Pulang ketempatnya yang lebih indah. Ke kediamannya yang sudah mewah. Agar ia senang pula kau hadir lagi menemaninya.
Biarkan aku merawat lubang sakit ini sendiri. Lagi.
untuk kamu, yang masih disini saat pintuku tertutup.
untuk kamu, yang masih disini saat pintuku tertutup.
Selasa, 23 September 2014
Bagaikan Bintang
Dia bagaikan bintang dikala mendung
Tak tampak namun tetap bersinar
Bagaikan batu karang yang terhempas ombak
Di hantam bertubi-tubi namun tetap bertahan
Layaknya pelangi setelah badai
Hadirnya mewarnai kelam
Menyinari yang gelap
Menguatkan yang rapuh
Meneguhkan yang goyah
Mewarnai yang hampa
Senin, 22 September 2014
Persinggahan
Dia percaya
bahwa Tuhan telah menyiapkan ombak yang tenang untuk membawa sebuah kapal
bertuan singgah di dermaganya.
Maka
datanglah hari itu. Hari yang selalu di tunggu-tunggu oleh gadis berkerudung
merah, Indina. Hari dimana seonggok kapal lusuh perlahan terlihat mendekati
tempatnya berdiri. Dermaga.
Hari
itu adalah hari terindah untuk Indina. Bersamaan dengan datangnya nahkoda yang
sudah mabuk lautan.
Hari-hari
baru pun di mulai….
[]
Bara,
begitu panggilan sang nahkoda. Ia datang dari sebrang pulau. Berkelana
mengarungi lautan untuk mencari tempat pemberhentian. Bara meninggalkan berjuta
kenangan pahit di tempatnya berasal. Lalu bertekad untuk melawan hantaman ombak
demi mencari sebuah ketenangan. Untuk dirinya dan tentu untuk hatinya jua.
Ia
tinggalkan tanah kelahirannya yang sudah penuh dengan lumpur kekecewaan. Pergi
menerjang ombak, mencari tanah baru untuk berpijak. Sejak saat itu, di dermaga
yang sepi, tempat dimana Indina berdiri, mereka bertemu dan mengenal satu sama
lain. Indina mengetahui tujuan Bara datang ketempatnya dan Bara mengetahui apa
maksud Indina selalu berdiri diujung dermaga.
Mereka
selalu melewati hari-hari dengan penuh suka cita. Selalu tertawa bersama dan
bercerita tentang apa saja yang menurut mereka pantas untuk di bagi bersama.
Sampai pada suatu hari di sore yang mendung saat mereka berdua sedang duduk di
ujung dermaga sembari menyeruput teh hangat, tiba-tiba sunyi menyergap di
antara keduanya. Lama. Sangat lama mereka berdua membisu sampai akhirnya Bara
membuka pembicaraan.
Bara
menceritakan semua tentang masa lalunya. Tentang kisah indah yang harus usai
saat kebahagiaannya belum selesai ia cicipi. Tentang jalan hidup yang terjal
sampai tergopoh-gopoh menjejakinya. Tentang masa lalunya yang kelam, bahkan
sangat hitam.
“Kamu
kenapa? Kok murung?” tanya Bara.
Indina
hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum dengan susah payah.
[]
3 bulan berlalu dengan cepat,
menyisakan tawa di ujung dermaga. Semuanya tidak lagi berjalan seperti
sediakala, tak ada lagi tawa di ujung dermaga. Dermaga itu kembali sepi, hanya
tersisa angin yang sedang mengikis kenangan.
Indina duduk di dekat jendela dengan
muka masam. Sementara Bara akhir-akhir ini lebih sering terlihat bersama kapal
lusuhnya yang sedang Ia betulkan sisi-sisi jeleknya. Terlihat pula sesekali
seorang perempuan yang tak asing lagi bagi Indina datang menghampiri Bara.
Selalu datang dengan makanan di dalam rantangnya.
Sakit
rasanya hati Indina kala melihat sahabatnya sendiri menggantikan posisinya
didekat Bara. Ya, sahabatnya. Pinkan adalah sahabat Indina sejak kecil. Tetapi,
ada rasa cemburu dan tak suka yang keluar dari hati Indina. Takut-takut Bara
berpaling darinya. Ia tidak menyadari bahwa perlahan air mata jatuh membasahi
pipinya. Kemudian, sang Ibu yang melihat anaknya sedang murung pun datang
menghampiri.
“Kamu
kenapa murung gitu mukanya?” tanya Ibu Indina.
Indina
hanya terdiam sambil terus menahan air matanya agar tidak keluar lagi. Tapi
ibunya sudah paham, pasti ada sesuatu yang tidak beres sedang menimpa anak
kesayangannya. Dan selurusan mata memandang ia mendapati Bara sedang bersama
Pinkan. Duduk berdua sambil entah menertawakan apa atau siapa.
Sejak
hari itu, Bara yang semula tinggal dirumah Indina berpamitan untuk mencari
kontrakan dan tinggal sendiri. Sampai terdengar kabar bahwa Bara akan segera
meminang Pinkan. Sungguh tak di sangka oleh Indina, begitu pula dengan ibunya
yang terheran-heran.
Indina
sudah lama sekali tidak bertemu dengan Pinkan. Sudah jatuh, tertimpa tangga
pula. Orang tersayang pergi, ditinggal sahabat pula. Malang nasib Indina kala
itu. Dia yang merawat dan menyembuhkan luka pada hatinya Bara, namun orang lain
yang memetik hasilnya saat Bara sudah pulih. Kini hati Indina benar-benar
teriris.
[]
Petang
yang kelabu di ujung dermaga….
Indina
duduk melamun sambil memainkan kakinya yang terendam air. Menikmati senja yang
mendung, bersama desiran ombak yang tenang dan angin yang berhembus perlahan.
Tiba-tiba Bara datang dan duduk disamping Indina.
“Besok
aku mau pulang, Din” katanya pelan
Indina
masih terdiam sampai akhirnya Bara membuka percakapan lagi.
“Mungkin
kamu marah sama aku sejak hari itu. Tapi aku gak bermaksud untuk buat kamu
kecewa. Aku cuma mau kamu tau siapa aku sebenarnya, Din. Biar kamu tau bahwa
aku gak sesempurna yang kamu bayangin.” Bara berhenti bicara lalu menarik napas
dalam-dalam sebelum dikeluarkan lewat hembusan yang pelan.
Lalu
ia mulai lagi berceloteh, “Aku cerita semua ke kamu karena aku percaya sama
kamu. Aku pikir kamu akan terima semuanya dan tetap dukung aku dengan keadaan
yang seperti itu. Tapi ternyata kamu malah pergi jauhin aku. Saat itu aku
benar-benar merasa kecewa sama kamu, Din.”
Deg. Hati Indina
seakan-akan terkena lemparan batu besar. Indina benar-benar merasa bersalah
karena sudah mengecewakan Bara. Ternyata selama ini Bara mengharapkan dia ada
disisinya.
“Maafin
aku, Bar” lalu air matanya terjun bebas menyentuh pipi
“Saat
kamu jauhin aku, sengaja aku gak kejar kamu. Karena aku gak mau menahan kamu
untuk tetap bersama aku saat keputusanmu adalah pergi ninggalin aku”
Tangis
Indina semakin deras, namun belum juga ada pelukan atau usapan air mata dari
Bara. Ia malah terus berbicara.
“Aku
tau setiap hari kamu liatin aku dari jendela rumahmu. Aku juga tau kalau
sebenarnya kamu cemburu lihat aku sama Pinkan. Aku tau kamu sedih sampai gak
mau keluar kamar saat aku pamitan untuk pindah ke kontrakan. Aku tau kamu,
Din.”
Kemudian
Bara menjelaskan tentang kabar yang beredar bahwa Bara akan menikahi Pinkan.
Ternyata semua itu hanya kabar burung yang tidak benar sama sekali. Ada
perasaan lega di hati Indina saat mendengar berita tersebut.
Indina
langsung memeluk Bara. Ia sudah tak bisa lagi membendung rasa rindu yang sejak
lama telah menghantui hari-harinya. Dalam peluk, ia dapat meluapkan semua
perasaannya meskipun tak ada kata yang terucap, namun air mata itu berbicara.
Dan Bara paham semua arti dari air mata Indina.
Akhirnya
matahari tenggelam dengan senyum. Berganti malam yang kembali cerah penuh
dengan bintang-bintang. Bara kembali kerumah Indina, tetapi hanya untuk malam
itu saja, karena esok pagi-pagi sekali Bara sudah harus membawa kapalnya
kembali berlayar meninggalkan dermaga bersama kenangannya, juga Indina.
[]
Hari
kepulangan Bara pun tiba. Jauh sebelum ayam jantan berkokok dan burung-burung
berkicau, Indina sudah bangun menyiapkan sarapan untuk Bara dan tak lupa pula
ia siapkan hatinya agar tetap teguh.
Bara
pergi meninggalkan dermaga begitu cepat, padahal Indina baru saja menyadari
bahwa dirinya sangat mencintai Bara. Namun sayang sekali semua harus berakhir
hari ini. Indina harus memupuk dalam-dalam rasa yang baru ia sadari itu. Agar
Bara tak berat langkah meninggalkannya.
Sebelum
Bara pergi, Indina menyisipkan sepucuk surat beramplop merah di saku Bara.
“Kamu baca setelah kapalmu berlayar di tengah lautan” pesan Indina. Bara
menganggukkan kepalanya.
Bara
sudah menginjakkan kakinya di kapal, namun ternyata seperti ada magnet yang
menariknya untuk kembali mendekati Indina.
“Aku
akan kembali lagi, Din. Aku akan kembali untuk kamu. Aku akan menjadikanmu
pendampingku berlayar mengarungi lautan dan menerjang ombak. Kita akan pergi
bersama-sama suatu hari, Din.” Lalu Bara memeluk Indina dan berkata, “jaga diri
kamu baik-baik ya!”
[]
Kapal
lusuh itu kemudian pergi. Kini dermaga kembali sepi. Indina akan tetap berdiri
di ujung dermaga, bedanya kali ini ia tau siapa yang ditunggu dan siapa yang
akan datang lagi.
Saat
kapalnya sudah menjauh dari dermaga, Bara membuka surat dari Indina. Ia
membacanya dengan perasaan yang sedang tak tentu.
|
Untukmu, Sang Nahkoda
Berkapal Lusuh
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, membuat
kenangan seperti kilat.
Rasanya baru kemarin kita berjumpa, bercerita
diujung dermaga.
Rasanya baru sebentar kita berbincang, sembari
menghitung bintang.
Tapi kini kau harus pergi, meninggalkanku dala
sunyi.
Saat aku mulai sadar, bahwa aku telah mencintaimu tanpa
kadar.
Membendung kerinduan, untuk sebuah pertemuan.
Kupikir, kau akan jadikan aku sebuah tujuan, tapi
nyatanya aku hanya sebuah persinggahan.
Selamat berlayar menembus lautan, Kapten!
Dari aku yang akan selalu
menunggumu ditepi dermaga
|
“Aku akan kembali dan menjadikanmu
tujuan akhirku berlayar, Indina.” Ucap Bara dalam hati sambil melihat
ke arah dermaga yang tertutup kabut pagi.
Sementara
itu, Indina belum beranjak dari ujung dermaga, memandangi kapal yang terlihat
seperti titik di kejauhan, lama-kelamaan hilang.
“Aku akan menunggumu disini, sampai
kamu datang lagi. Tak peduli selama apapun. Yang aku tau, tujuan akhirmu adalah
aku.” Indina berkata dalam hati dengan mantap seraya meneguhkan
hatinya yang baru ditinggal oleh orang yang sangat ia cintai.
-SELESAI-
Minggu, 17 Agustus 2014
From: My brain, with heart
Aku masih terjaga hingga detik ini. Pukul 00:00
Masih memikirkanmu. Bersama kekhawatiran-kekhawatiran yang sejak tadi mengusikku.
Entah mengapa rasanya kian hari perasaan gundah itu makin kental. Diiringi ketakutan-ketakutan yang entah darimana asalnya.
Aku hanya ingin membantumu. Tapi aku tak dapat menjelaskannya. Hingga akhirnya lagi-lagi kamu salah mengerti maksudku.
Aku tak pandai dalam menjelaskan. Kau tau itu. Lalu aku tak pula pandai dalam pembuktian, hingga kamu tak pernah mengerti maksudku.
Terlalu sulit menjelaskannya dalam bentuk kata-kata. Semua terekam dalam otakku, selalu dimainkan. Namun, tak dapat kusampaikan. Terlalu sulit untuk mencerna semua maksudku. Yang tak lain hanya ingin membuatmu jadi seseorang yang lebih baik lagi.
Sincerely,
My brain with heart.
Jumat, 15 Agustus 2014
Karena Kamu Mencintai
Ketika usahamu tak lagi dihargai, mungkin itulah saatnya kau pergi
Saat perhatianmu tak di anggap, mungkin itu adalah saat dimana kamu harus berhenti mendekap
Saat kekhawatiranmu di sia-siakan, mungkin itu waktunya kamu untuk melepaskan
Biarkan semua berhenti walau sejenak, agar semua tak bergerak
Biarkan perasaan itu mengalir, agar hatinya dapat mencair
Supaya ia mengerti bahwa usahamu perlu dihargai
Bahwa perhatianmu tulus sepenuh hati
Dan kekhawatiran-kekhawatiran itu memang murni
Karena kamu mencintai
Bahwa perhatianmu tulus sepenuh hati
Dan kekhawatiran-kekhawatiran itu memang murni
Karena kamu mencintai
Selasa, 05 Agustus 2014
Pena&Kertas
Saat tak satu orang pun mengerti perasaanmu
Saat tak seorang pun paham dengan perkataanmu
Jika tidak ada orang yang dapat mengartikan maksudmu
Maka bernyanyilah dalam tulisan
Goreskan pena diatas kertas
Biarkan tanganmu mengikuti lantunan kata perkata dari hatimu
Agar setidaknya, ada juga yang mengertikanmu, walau hanya sebatas pena dan kertasnya
Random. #part2
Seperti metari pagi yang bersinar sendiri, aku hanya ingin menepi. Mencari apa yang hilang, dari angan yang melayang.
Seperti rembulan malam yang tak bersinar, aku berlari mengejar. Menangkap apa yang terlepas, dari harapan yang terhempas.
Layaknya ombak yang mengombang-ambingkan perahu nelayan, hati ini mulai goyah dengan sedikit luka yang lagi-lagi menganga.
Selagi aku berusaha meneguhkan penutup luka ini, jangan biarkan keraguan terus menjelma dalam hati.
Seandainya semua tak terjamahi, maka biarkan aku menyusunnya sendiri.
Untuk mengingat bahwa aku tak perlu menggantungkan hidup padamu. Dan tak jua perlu kau sanggah hidupku dengan kaki kecilmu.
Karena suatu saat nanti, suka tidak suka, jika Tuhan berkata tidak, tak pula kita bisa menolaknya.
Minggu, 27 Juli 2014
Random
How its feel like? Saat lo tau bahwa ada orang lain yang lebih mengenal dia. Lebih tau segala-galanya tentang dia. Lebih mengerti maksud dia. Dan lebih paham tentang dia.
Feel worse? It's just about two people who know each others so well. And, who am I? I dont know about you like she knows about you.
It's gonna be weird when you dont know him so well as she does.
Randomly,
My random heart-feeling
Selasa, 22 Juli 2014
Kamis, 03 Juli 2014
Dua Sisi
Dulu sempat terbesit pertanyaan dangkal seorang gadis yang sedang dirundung asmara
Ia bertanya kepada Tuhan
"Wahai Engkau Zat Yang Maha Penyayang, mengapa Engkau dekatkan aku dengan lelaki macam dia? Tak baik tingkah dan kesehariannya"
Namun si gadis tak kunjung mendapatkan jawaban dari Sang Khalik
Hingga waktu berjalan cukup lama dan akhirnya semua sisi gelap sang laki-laki tersebut terungkap
Sisi hitam yang sangat kelam
Yang membuat gadis ini tercengang membatu tak bergerak
Lalu ia bertanya sekali lagi kepada Tuhan-nya
Dan ia mendengar jawaban Tuhan
Tuhan hanya ingin ia belajar
Belajar menghargai setiap goresan hitam diatas kertas putih yang bersih
Belajar ikhlas menerima apapun warna masa lalu seseorang
Tuhan ingin si gadis yang lugu ini tau, bahwa di sebuah dunia yg ia singgahi ada matahari yg memancarkan sinar begitu terang
Namun ada juga rembulan yg bersinar redup
Tuhan ingin memberitau si gadis bahwa hidup ini tidak selalu tentang sisi putih yg suci
Tetapi ada juga yg hitam bahkan sangat gelap
Tuhan ingin menuntun si gadis kecil menjadi lebih dewasa dengan kedatangan orang yg berbanding terbalik dengan dia
Agar si gadis kecil paham bahwa hidup ini selalu punya dua sisi.
Jumat, 20 Juni 2014
Do'a
Tuhan...
sudahkah kau dengar rintihku?
meminta kekuatan kepadamu
untuk bertahan dalam rasa ini
rasa yang hampir mati ditinggal tuannya
Tuhan...
sudah sampaikah alunan doaku?
memohon keteguhan hati
atas kesedihan tanpa ujung
atas kepedihan sayatan lisan itu
Tuhan...
masihkah ada waktu untukku lepas dari semua ini?
dari rasa sakit yang selalu menghujam
dari pedihnya ucapan yang menyayat
dari angkuhnya perilaku mereka
Tuhan...
aku bersujud kepadamu
meminta dan memohon
teguhkanlah hati yang luka ini
perkokohlah kaki ini untuk terus berjalan
fokuskan mata ini agar selalu melihat kedepan
dan lindungilah perasaan ini dari dengki dan iri hati
aamiin
sudahkah kau dengar rintihku?
meminta kekuatan kepadamu
untuk bertahan dalam rasa ini
rasa yang hampir mati ditinggal tuannya
Tuhan...
sudah sampaikah alunan doaku?
memohon keteguhan hati
atas kesedihan tanpa ujung
atas kepedihan sayatan lisan itu
Tuhan...
masihkah ada waktu untukku lepas dari semua ini?
dari rasa sakit yang selalu menghujam
dari pedihnya ucapan yang menyayat
dari angkuhnya perilaku mereka
Tuhan...
aku bersujud kepadamu
meminta dan memohon
teguhkanlah hati yang luka ini
perkokohlah kaki ini untuk terus berjalan
fokuskan mata ini agar selalu melihat kedepan
dan lindungilah perasaan ini dari dengki dan iri hati
aamiin
Selasa, 17 Juni 2014
Untuk yang pernah ada
aku telah melewati hari yang amat panjang dan sangat melelahkan
kini aku butuh bersandar atau bahkan terpejam sejenak
aku hanya ingin melepas penat
aku berjanji ini tak akan lama
sebentar saja
sungguh, aku ingin bersandar dibahu kokohmu
aku hanya ingin mengadu kepadamu
menceritakan semua yang selama ini mengusikku
meluapkan resah didekatmu
menumpahkan tangis dipelukmu
sungguh, aku baru saja melawati banyak sekali hal buruk
aku baru sadar
betapa lucunya siklus mempermainkanku
saat aku mencoba untuk mendekapmu
ia berusaha melepaskannya
semakin kuat aku mendekapmu
semakin keras pula usahanya untuk melepaskan kita
hingga akhirnya aku terluka
dan kamu, tak bisa berbuat apapun
kamu hanya bisa menunggu takdir menunjukkan jalan untukmu
seolah-olah engkau tak dapat memilih untuk tetap berdekapan denganku
atau malah merenggangkan dekapan untuk membantu dia
jadi saat aku terluka dan mulai menyerah pada semuanya
kau juga menyerah pada takdir
kau anggap aku tak ingin mendekapmu
padahal aku sudah cukup terluka mempertahankanmu
sungguh, aku tak rela ia merebutmu dariku
lalu, apa yang dapat aku lakukan, jika mendekapmu dengan erat saja sudah cukup menyakitiku?
kini aku butuh bersandar atau bahkan terpejam sejenak
aku hanya ingin melepas penat
aku berjanji ini tak akan lama
sebentar saja
sungguh, aku ingin bersandar dibahu kokohmu
aku hanya ingin mengadu kepadamu
menceritakan semua yang selama ini mengusikku
meluapkan resah didekatmu
menumpahkan tangis dipelukmu
sungguh, aku baru saja melawati banyak sekali hal buruk
aku baru sadar
betapa lucunya siklus mempermainkanku
saat aku mencoba untuk mendekapmu
ia berusaha melepaskannya
semakin kuat aku mendekapmu
semakin keras pula usahanya untuk melepaskan kita
hingga akhirnya aku terluka
dan kamu, tak bisa berbuat apapun
kamu hanya bisa menunggu takdir menunjukkan jalan untukmu
seolah-olah engkau tak dapat memilih untuk tetap berdekapan denganku
atau malah merenggangkan dekapan untuk membantu dia
jadi saat aku terluka dan mulai menyerah pada semuanya
kau juga menyerah pada takdir
kau anggap aku tak ingin mendekapmu
padahal aku sudah cukup terluka mempertahankanmu
sungguh, aku tak rela ia merebutmu dariku
lalu, apa yang dapat aku lakukan, jika mendekapmu dengan erat saja sudah cukup menyakitiku?
Jumat, 16 Mei 2014
Tanya Tanpa Jawaban
Tuhan, mengapa waktu begitu cepat berlalu?
Belum hilang rasanya sisa-sisa kebahagiaan kemarin
Namun sekarang semuanya telah sirna, digantikan dengan derai air mata
Tuhan, mengapa dia begitu cepat pergi?
Padahal aku belum sempat menyadari, bahwa selama ini dia yang aku cari
Dia yang berhasil menutup lukaku
Dia pula yang berhasil membangkitkan rasa yang sempat memudar
Lalu, mengapa sekarang ia buka lagi lukaku?
Mengapa ia goreskan lagi?
Mengapa ia buat lagi luka baru padaku?
Dan sekarang, seenaknya ia pergi.
Lantas, siapa yang akan mengobati jika dia pergi?
Aku tak mampu menutupnya sendiri
Belum hilang rasanya sisa-sisa kebahagiaan kemarin
Namun sekarang semuanya telah sirna, digantikan dengan derai air mata
Tuhan, mengapa dia begitu cepat pergi?
Padahal aku belum sempat menyadari, bahwa selama ini dia yang aku cari
Dia yang berhasil menutup lukaku
Dia pula yang berhasil membangkitkan rasa yang sempat memudar
Lalu, mengapa sekarang ia buka lagi lukaku?
Mengapa ia goreskan lagi?
Mengapa ia buat lagi luka baru padaku?
Dan sekarang, seenaknya ia pergi.
Lantas, siapa yang akan mengobati jika dia pergi?
Aku tak mampu menutupnya sendiri
Jumat, 09 Mei 2014
Hujan Bersama Seseorang [part II]
Lantas, akankah hujan mengajak seseorang itu menari? Tanpa air mata, tentunya.
Sejak saat itu ia benar-benar membenci hujan
Ia tak suka mendengar gemuruh petir saling menyambar
Seolah-olah ingin menyakitinya
Tak senang pula ia melihat hujan membasahi jalannya
Sudah ratusan kali hujan mengguyur kepalanya
Namun ia tak kunjung luluh
Sudah ribuan kali petir menggelegar
Tetapi kebenciannya malah semakin membesar
Hingga hari itu tiba. . . .
Hari dimana ia bertemu dengan seseorang
Seseorang yang mengajaknya menari
Dalam hujan
Awalnya ia sungkan
Karena ia masih membenci hujan
Namun perlahan hatinya mulai menerima
Ajakan untuk berdansa, bersama hujan.
Sejak saat itu ia benar-benar membenci hujan
Ia tak suka mendengar gemuruh petir saling menyambar
Seolah-olah ingin menyakitinya
Tak senang pula ia melihat hujan membasahi jalannya
Sudah ratusan kali hujan mengguyur kepalanya
Namun ia tak kunjung luluh
Sudah ribuan kali petir menggelegar
Tetapi kebenciannya malah semakin membesar
Hingga hari itu tiba. . . .
Hari dimana ia bertemu dengan seseorang
Seseorang yang mengajaknya menari
Dalam hujan
Awalnya ia sungkan
Karena ia masih membenci hujan
Namun perlahan hatinya mulai menerima
Ajakan untuk berdansa, bersama hujan.
-
Ya. Begitulah siklus mempermaikanmu
Sesuatu yang dulunya sangat amat kaucintai
Bisa berubah menjadi sesuatu yang begitu kaubenci
Namun, saat ada yang mengobati
Kau akan kembali mencitai
-
Dan seperti inilah ia sekarang
Mencintai apa yang pernah ia benci
Namun dengan cara yang berbeda
Ia mencintai hujan bersama seseorang
Tentu, tanpa air mata : )
Tentu, tanpa air mata : )
Jumat, 18 April 2014
Kita ibarat dua tokoh utama dalam satu novel. Aku pemeran wanitanya, dan kamu pemeran prianya.
Kita memiliki cerita yang rumit, namun bagaimana caraku menjelaskan cerita dalam bab-bab di novel tersebut sementara baru saja sampai di prolog* kamu telah pergi. Lantas, bagaimana bisa aku mencapai epilog** itu jika tanpa ada kamu didalamnya?
Pernahkah kamu berdiam diri sejenak memikirkan cerita-yang amat- singkat ini? Aku selalu melakukannya. Kuulang sekali lagi, aku. selalu. melakukannya.
Dengan berjuta-juta pertanyaan yang tak pernah bisa kujawab sendiri, aku selalu memikirkannya.
Menerka-nerka jawaban yang tak pantas untuk dijadikan sebuah penjelasan darimu, atau dari siapapun.
*pembuka cerita
**penutup cerita
Jumat, 21 Februari 2014
Teardrops
Terlalu banyak air mata yang mengalir dan akhirnya bermuara di pangkuan, hanya karena sesosok lelaki yang bahkan tak lagi pernah mengingatmu.
Hujan deras pagi ini telah mewakili perasaan seorang bocah perempuan yang cengeng. Sama seperti air hujan yang membasahi tanah, kini air mata anak itu pun telah membanjiri bantalnya. Tak ada yang mengerti mengapa ia menangis tersedu-sedu, bahkan dirinya sendiri pun tak paham.
Bocah ini hanya dapat mengira-ngira apa penyebab dari semua perasaan sedihnya. Mungkinkah karena merindukan seseorang? Karena, semakin ia mengingat namanya, semakin sedihlah dia. Semakin ia memainkan kenangan dengan orang itu, keluarlah airmatanya. Semakin ia memainkan ingatan akan senyum orang itu, bertambah deras air matanya. Iya, anak ini tau, orang itu lah penyebab kesedihannya. Ditambah lagi dengan lagu-lagu kenangan mereka yang sayup-sayup sampai ketelinga anak perempuan ini. Makin jadilah tangisnya meledak.
Ia benar-benar merindukan orang itu. Orang yang bahkan telah mengacuhkannya. Orang yang tak lagi pernah ia lihat senyumannya. Orang yang mungkin tak pernah lagi mengingatnya. Orang yang dalam diam, telah meninggalkannya.
-
Sabtu, 01 Februari 2014
kutipan novel dan film 12 menit
"hidup itu kayak mendorong mobil di tanjakan. pilihannya ada 2. kamu lepas dan mobil itu mundur, atau kamu dorong sampai mobil itu ke atas"
"kalo kamu mundur di tengah jalan, bukan orang lain yang kecewa. tapi diri kamu sendiri"
"kalo gabisa pake tangan, pake mata. kalo gabisa juga, pake hati kamu"
"keberhasilan sebuah tim bergantung pada pelatihnya. tapi mereka tidak menyebutkan bahwa keberhasilan pelatih karena kedisiplinan anggotanya"
"kamu harus nerima kalau ada janji-janji yang gabisa di tepati. karena kadang ada beberapa hal yang lebih penting daripada sebuah janji"
"saya harap kalian galupa bahwa kita ada disini untuk tujuan yang sama. menang di GPMB"
"kalian semua harus berenang melawan arus yang kuat. begitu kalian berhenti, kalian akan segera terdorong ke belakang"
"untuk melawan arus yang kuat, kalian gacuma butuh tubuh yang kuat. tapi mental yang kuat juga"
"mental yang kuat datang dari komitmen yang kuat"
"saya beruntung mempunyai ayah yang mengizinkan saya menjadi diri saya sendiri"
"kalo kamu pake kostum marching band, kamu kelihatan gagah ya"
"kalo kamu mundur di tengah jalan, bukan orang lain yang kecewa. tapi diri kamu sendiri"
"kalo gabisa pake tangan, pake mata. kalo gabisa juga, pake hati kamu"
"keberhasilan sebuah tim bergantung pada pelatihnya. tapi mereka tidak menyebutkan bahwa keberhasilan pelatih karena kedisiplinan anggotanya"
"kamu harus nerima kalau ada janji-janji yang gabisa di tepati. karena kadang ada beberapa hal yang lebih penting daripada sebuah janji"
"saya harap kalian galupa bahwa kita ada disini untuk tujuan yang sama. menang di GPMB"
"kalian semua harus berenang melawan arus yang kuat. begitu kalian berhenti, kalian akan segera terdorong ke belakang"
"untuk melawan arus yang kuat, kalian gacuma butuh tubuh yang kuat. tapi mental yang kuat juga"
"mental yang kuat datang dari komitmen yang kuat"
"saya beruntung mempunyai ayah yang mengizinkan saya menjadi diri saya sendiri"
"kalo kamu pake kostum marching band, kamu kelihatan gagah ya"
12 menit the movie
Hari ini, MB Gita Cantika nonton bersama film 12 Menit: Kemenangan Untuk Selamanya. Film pertama yang menceritakan kehidupan anak-anak marching band di Bontang, Kalimantan Timur. Tentang perjuangan mereka menggapai impian setinggi Tugu Monas, bahkan lebih tinggi lagi dari itu. Tentang kedisiplinan. Tentang pilihan yang membuatmu bahagia, bukan hanya sekedar kaya harta.
Film ini sangat menginspirasi bagi semua kalangan. Baik anak-anak, remaja, maupun orang tua. Karena banyak sekali pelajaran yang dapat diserap melalu film ini. Sangat memotivasi dan menginspirasi bagi kamu muda untuk terus semangat dalam mengejar impian, walaupun kesempatan itu hanya terhitung waktu, 12 menit.
Menceritakan perjalanan seorang anak perempuan keturunan Jepang pindahan dari Jakarta bernama Elaine yang dulunya seorang Field Commander semasanya sekolah di Jakarta. Elaine yang pintar terpilih menjadi tim olimpiade fisika tetapi ia lebih memilih marching band, ayahnya marah karena beliau tidak suka dengan marching band.
Tentang seorang anak laki-laki bernama Lahan, dari pedalaman Bontang yang hidup hanya berdua dengan bapaknya yang sedang sakit. Yang punya mimpi pergi ke Tugu Monumen Nasional untuk menggantungkan cita-citanya.
Tentang anak yatim pemain snare drum yang tinggal bersama oma dan opanya karena ibunya sedang kuliah di luar negeri dan tak pernah pulang. Tara namanya. Ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan dan saat itu pula Tara kehilangan satu alat pendengarnya karena kejadian itu dialami ayahnya bersama dia.
Tontonan wajib bagi semua generasi, karena untuk para pemuda/pemudi film ini cocok sekali. Memberi motivasi kepada kita untuk terus berjuang menggapai kemenangan walau ada tembok besar yang menghalangi. Mengajarkan kita untuk memilih satu pilihan yang terbaik diantara banyak pilihan. Membangun jiwa disiplin dan bertanggung jawab.
Nilai-nilai moralnya tidak hanya untuk generasi muda, tetapi juga untuk para orang tua. Di film ini, para orang tua disadarkan, bahwa pilihan anda belum tentu yang terbaik untuk anak-anak anda. Bagi orang tua yang anaknya ikut marching band, jika anda tidak mengizinkan anak anda untuk terus berkarya dalam marching band, sebaiknya tonton film 12 menit ini, agar anda dapat merasakan perjuangan anak anda untuk mencapai kesuksesannya. Anda rasakan bahwa nafas anak anda yang ikut marching band adalah nafas orang-orang yang penuh dengan kesuskesan.
Tidak akan rugi jika kalian menyaksikan:)
Film 12 Menit: Kemenangan Untuk Selamanya. RECOMMENDED!
Jumat, 17 Januari 2014
12 menit
Kami terlahir di tengah-tengah lautan manusia
Kami hidup untuk berkarya
Kami berjalan sesuai chart display yang telah ada
Kami bicara dengan tiupan do-re-mi-fa
Kami berjuang menghabiskan keringat, menghabiskan tenaga, menghabiskan suara
Demi mencapai sebuah kemenangan yang berharga
Meraih angan-angan yang telah bergantung lama
Mengerjar keberhasilan yang telah menanti disana
Hidup di lingkungan orang-orang awam, tak mengurungkan niat kami untuk terus berjuang
Walau mentari menghujat dengan panasnya
Walaupun hujan mencibir dengan kedatangannya yang tak menentu
Walau terkadang, teman sebaya menghasut untuk lupakan latihan
Tapi kami, sebagai seorang pemimpi, tetap terus mengejar kemenangan itu
Menghilangkan keegoisan di dalam diri sendiri
Dan mengingat teman-teman yang juga sedang berjuang
Karena pada akhirnya, kami akan maju bersama, berjuang melawan semua godaan
Demi 1 kata, KEMENANGAN
Yang harus kami genggam demi segala macam yang telah kami korbankan selama ratusan hari dan ribuan jam
Karena dengan kemenangan, terbayarlah sudah semua keringat, lelah, bahkan tangis yang telah kami keluarkan selama ini
Ribuan jam bersama-sama, demi 12 menit yang sangat berharga.
Rabu, 01 Januari 2014
sepatah kata
selamat pagi, mentari cerah
selamat pagi, burung yang berceloteh
selamat pagi, embun di dedaunan
selamat pagi, bunga yang bermekaran
selamat pagi, penghuni hati
selamat pagi, kamu yang berulang tahun hari ini:)
tak ingat sudah berapa kali aku merangkai kata demi kata agar menjadi seindah bunga
tapi aku masih saja gagal
merakit dari tepian sungai, mencari sebongkah kata
agar tulisan ini tertata apik seperti buku-buku di dalam raknya
aku tak pandai dalam mengucap
tak pula pandai dalam menyusun ucapan
aku tak sepuitis Khalil Gibran
tidak pula seromantis lagu-lagu ciptaan John Lennon
dengan segala keterbatasan ini, izinkan aku menyempurkan sepatah kata yang sedaritadi menghantui otakku
selamat ulang tahun untuk pemain alat musik terhebat yang pernah aku kenal
aku hanya bisa melantunkan harapan-harapan kecil agar menjadi doa yang besar untukmu
untuk hidupmu yang akan jauh lebih baik
untuk pribadimu yang akan semakin dewasa
untukmu yang sudah tak bisa kusebut cinta
for special person, nswd., until... i dont know.
selamat pagi, burung yang berceloteh
selamat pagi, embun di dedaunan
selamat pagi, bunga yang bermekaran
selamat pagi, penghuni hati
selamat pagi, kamu yang berulang tahun hari ini:)
tak ingat sudah berapa kali aku merangkai kata demi kata agar menjadi seindah bunga
tapi aku masih saja gagal
merakit dari tepian sungai, mencari sebongkah kata
agar tulisan ini tertata apik seperti buku-buku di dalam raknya
aku tak pandai dalam mengucap
tak pula pandai dalam menyusun ucapan
aku tak sepuitis Khalil Gibran
tidak pula seromantis lagu-lagu ciptaan John Lennon
dengan segala keterbatasan ini, izinkan aku menyempurkan sepatah kata yang sedaritadi menghantui otakku
selamat ulang tahun untuk pemain alat musik terhebat yang pernah aku kenal
aku hanya bisa melantunkan harapan-harapan kecil agar menjadi doa yang besar untukmu
untuk hidupmu yang akan jauh lebih baik
untuk pribadimu yang akan semakin dewasa
untukmu yang sudah tak bisa kusebut cinta
for special person, nswd., until... i dont know.
Langganan:
Postingan (Atom)