Pages

Selasa, 14 Oktober 2014

Cahaya untuk bunga

Aku pernah bertanya kepada langit malam tentang perasaan ini.
Perasaan yang telah lama hilang, kemudian datang lagi.
Perasaan yang dulu telah dicampakkan, lalu terbuai kembali.
Perasaan yang tak bisa kudustai, ternyata masih mengiringi.

Menguak tabir yang sudah lama tertutup, bersembunyi dalam kesendirian.
Menyadari bahwa perasaan ini tak benar-benar hilang dalam kesepian.
Membuka mata hati yang sudah lama terkunci dalam keasaan.
Menghampiri penantian yang sudah lama menghilang dari peradaban.

Duhai engkau yang telah menyakiti,
Mengapa harus kembali?
Membuat hati ini kian terbuka lagi.
Padahal janji tak ingin menerima lagi.

Setelah kau hancurkan bintangku dengan cahaya bulanmu
Kini kau datang hingga membuatku membisu
Haruskah aku terima hadirmu?
Saat hati ini masih melepuh terkena percikkan apimu dulu

Tak dapat kutolak rayu mautmu
Kuterima kau kembali dirumahku
Rumah lusuh dengan luka pilu
Akibat kamu dihari dulu

Kuemban senyum lebar di wajah yang memerah
Ternyata langit kita masih indah
Tak pernah membuatku resah ataupun gundah
Aku selalu ingin disampingmu agar bunga-bungaku selalu merekah

Tetapi, apa daya jika cahayaku tak secerah cahayanya
Taman bungaku tak semewah kepunyaannya
Dan aku selalu di olok-olok olehnya
Membuatku terusik mendengarnya

Bisakah kau bantu aku menerangi rumah ini? Rumah yang sedang kau singgahi, agar ia tau bahwa kau sudah ditempatku.
Dapatkah kau berikan pupuk-pupuk pada bunga-bungaku? Bunga yang akan menghiasi pekarangan hatimu, agar ia tau bahwa kau bahagia bersamaku.

Namun, bilamana kau tak sanggup, maka berhentilah sekarang. Berbaliklah. Palingkan wajahmu, kemudian pergi.
Biarkan aku yang menyinari rumah ini dengan energiku sendiri.
Biarkan aku yang memupuki dan menyirami bunga-bunga itu agar selalu mekar dan memberikan senyum merekah.
Pulanglah. Pulang ketempatnya yang lebih indah. Ke kediamannya yang sudah mewah. Agar ia senang pula kau hadir lagi menemaninya.
Biarkan aku merawat lubang sakit ini sendiri. Lagi.

untuk kamu, yang masih disini saat pintuku tertutup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com