Pages

Sabtu, 06 Oktober 2012

Rintikkan Hujan

Rintikkan hujan semakin terdengar menggerutuk.
Aku memejamkan mata, untuk sejenak saja membayangkan hari kemarin saat hujan menyerang kita berdua.
Lalu, kamu melindungiku dengan sehelai jaketmu. Kamu rela ditimpa olehnya, sementara engkau enggan aku yang tertimpa oleh gerombolan air itu.
Rindu rasanya. Ingin mengulang lagi semua itu.
Namun apa daya, kini waktu memisahkan kita. Seakan tak lagi ada detik yang tersisa.
Sulit mengungkapkannya lewat kata-kata.
Terlalu perih untuk melihat semua perubahan ini.

Aku bertahan walau tersakiti.
Aku mencoba menumbuhkan rasa percaya yang sempat hilang setelah kau khianati.
Dan kini, aku percaya, Tuhan akan menjagamu hanya untukku.
Dan aku menjaga diriku untukmu.

Percaya hanya pada deretan kata memang tak semudah membalikkan telapak tangan.
Namun, aku tetap percaya. Walalu kadang, aku dihantui perasaan menakutkan.
Seakan-akan ada iblis yang membisikkanku untuk tak lagi percaya pada deretan kata-kata di pesan singkatmu itu.
Tapi aku melawannya. Aku yakin semua kata-kata itu bener adanya.
Walaupun aku tak pernah tau yang sebenernya.

Kadang, kamu tak mengerti apa maksud kemarahanku padamu.
Yang kamu tau, kita terlalu sering bertengkar hanya karena aku yang membesar-besarkan masalah.
Kamu tidak peduli dengan apa alasanku.
Kamu tidak mengerti apa maksudku.
Dan pada akhirnya, kamu tidak pernah peka dengan semua inginku.

kutulis dengan rintikkan airmata.
 

Template by BloggerCandy.com