Terlalu banyak air mata yang mengalir dan akhirnya bermuara di pangkuan, hanya karena sesosok lelaki yang bahkan tak lagi pernah mengingatmu.
Hujan deras pagi ini telah mewakili perasaan seorang bocah perempuan yang cengeng. Sama seperti air hujan yang membasahi tanah, kini air mata anak itu pun telah membanjiri bantalnya. Tak ada yang mengerti mengapa ia menangis tersedu-sedu, bahkan dirinya sendiri pun tak paham.
Bocah ini hanya dapat mengira-ngira apa penyebab dari semua perasaan sedihnya. Mungkinkah karena merindukan seseorang? Karena, semakin ia mengingat namanya, semakin sedihlah dia. Semakin ia memainkan kenangan dengan orang itu, keluarlah airmatanya. Semakin ia memainkan ingatan akan senyum orang itu, bertambah deras air matanya. Iya, anak ini tau, orang itu lah penyebab kesedihannya. Ditambah lagi dengan lagu-lagu kenangan mereka yang sayup-sayup sampai ketelinga anak perempuan ini. Makin jadilah tangisnya meledak.
Ia benar-benar merindukan orang itu. Orang yang bahkan telah mengacuhkannya. Orang yang tak lagi pernah ia lihat senyumannya. Orang yang mungkin tak pernah lagi mengingatnya. Orang yang dalam diam, telah meninggalkannya.
-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar