Dia percaya
bahwa Tuhan telah menyiapkan ombak yang tenang untuk membawa sebuah kapal
bertuan singgah di dermaganya.
Maka
datanglah hari itu. Hari yang selalu di tunggu-tunggu oleh gadis berkerudung
merah, Indina. Hari dimana seonggok kapal lusuh perlahan terlihat mendekati
tempatnya berdiri. Dermaga.
Hari
itu adalah hari terindah untuk Indina. Bersamaan dengan datangnya nahkoda yang
sudah mabuk lautan.
Hari-hari
baru pun di mulai….
[]
Bara,
begitu panggilan sang nahkoda. Ia datang dari sebrang pulau. Berkelana
mengarungi lautan untuk mencari tempat pemberhentian. Bara meninggalkan berjuta
kenangan pahit di tempatnya berasal. Lalu bertekad untuk melawan hantaman ombak
demi mencari sebuah ketenangan. Untuk dirinya dan tentu untuk hatinya jua.
Ia
tinggalkan tanah kelahirannya yang sudah penuh dengan lumpur kekecewaan. Pergi
menerjang ombak, mencari tanah baru untuk berpijak. Sejak saat itu, di dermaga
yang sepi, tempat dimana Indina berdiri, mereka bertemu dan mengenal satu sama
lain. Indina mengetahui tujuan Bara datang ketempatnya dan Bara mengetahui apa
maksud Indina selalu berdiri diujung dermaga.
Mereka
selalu melewati hari-hari dengan penuh suka cita. Selalu tertawa bersama dan
bercerita tentang apa saja yang menurut mereka pantas untuk di bagi bersama.
Sampai pada suatu hari di sore yang mendung saat mereka berdua sedang duduk di
ujung dermaga sembari menyeruput teh hangat, tiba-tiba sunyi menyergap di
antara keduanya. Lama. Sangat lama mereka berdua membisu sampai akhirnya Bara
membuka pembicaraan.
Bara
menceritakan semua tentang masa lalunya. Tentang kisah indah yang harus usai
saat kebahagiaannya belum selesai ia cicipi. Tentang jalan hidup yang terjal
sampai tergopoh-gopoh menjejakinya. Tentang masa lalunya yang kelam, bahkan
sangat hitam.
“Kamu
kenapa? Kok murung?” tanya Bara.
Indina
hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum dengan susah payah.
[]
3 bulan berlalu dengan cepat,
menyisakan tawa di ujung dermaga. Semuanya tidak lagi berjalan seperti
sediakala, tak ada lagi tawa di ujung dermaga. Dermaga itu kembali sepi, hanya
tersisa angin yang sedang mengikis kenangan.
Indina duduk di dekat jendela dengan
muka masam. Sementara Bara akhir-akhir ini lebih sering terlihat bersama kapal
lusuhnya yang sedang Ia betulkan sisi-sisi jeleknya. Terlihat pula sesekali
seorang perempuan yang tak asing lagi bagi Indina datang menghampiri Bara.
Selalu datang dengan makanan di dalam rantangnya.
Sakit
rasanya hati Indina kala melihat sahabatnya sendiri menggantikan posisinya
didekat Bara. Ya, sahabatnya. Pinkan adalah sahabat Indina sejak kecil. Tetapi,
ada rasa cemburu dan tak suka yang keluar dari hati Indina. Takut-takut Bara
berpaling darinya. Ia tidak menyadari bahwa perlahan air mata jatuh membasahi
pipinya. Kemudian, sang Ibu yang melihat anaknya sedang murung pun datang
menghampiri.
“Kamu
kenapa murung gitu mukanya?” tanya Ibu Indina.
Indina
hanya terdiam sambil terus menahan air matanya agar tidak keluar lagi. Tapi
ibunya sudah paham, pasti ada sesuatu yang tidak beres sedang menimpa anak
kesayangannya. Dan selurusan mata memandang ia mendapati Bara sedang bersama
Pinkan. Duduk berdua sambil entah menertawakan apa atau siapa.
Sejak
hari itu, Bara yang semula tinggal dirumah Indina berpamitan untuk mencari
kontrakan dan tinggal sendiri. Sampai terdengar kabar bahwa Bara akan segera
meminang Pinkan. Sungguh tak di sangka oleh Indina, begitu pula dengan ibunya
yang terheran-heran.
Indina
sudah lama sekali tidak bertemu dengan Pinkan. Sudah jatuh, tertimpa tangga
pula. Orang tersayang pergi, ditinggal sahabat pula. Malang nasib Indina kala
itu. Dia yang merawat dan menyembuhkan luka pada hatinya Bara, namun orang lain
yang memetik hasilnya saat Bara sudah pulih. Kini hati Indina benar-benar
teriris.
[]
Petang
yang kelabu di ujung dermaga….
Indina
duduk melamun sambil memainkan kakinya yang terendam air. Menikmati senja yang
mendung, bersama desiran ombak yang tenang dan angin yang berhembus perlahan.
Tiba-tiba Bara datang dan duduk disamping Indina.
“Besok
aku mau pulang, Din” katanya pelan
Indina
masih terdiam sampai akhirnya Bara membuka percakapan lagi.
“Mungkin
kamu marah sama aku sejak hari itu. Tapi aku gak bermaksud untuk buat kamu
kecewa. Aku cuma mau kamu tau siapa aku sebenarnya, Din. Biar kamu tau bahwa
aku gak sesempurna yang kamu bayangin.” Bara berhenti bicara lalu menarik napas
dalam-dalam sebelum dikeluarkan lewat hembusan yang pelan.
Lalu
ia mulai lagi berceloteh, “Aku cerita semua ke kamu karena aku percaya sama
kamu. Aku pikir kamu akan terima semuanya dan tetap dukung aku dengan keadaan
yang seperti itu. Tapi ternyata kamu malah pergi jauhin aku. Saat itu aku
benar-benar merasa kecewa sama kamu, Din.”
Deg. Hati Indina
seakan-akan terkena lemparan batu besar. Indina benar-benar merasa bersalah
karena sudah mengecewakan Bara. Ternyata selama ini Bara mengharapkan dia ada
disisinya.
“Maafin
aku, Bar” lalu air matanya terjun bebas menyentuh pipi
“Saat
kamu jauhin aku, sengaja aku gak kejar kamu. Karena aku gak mau menahan kamu
untuk tetap bersama aku saat keputusanmu adalah pergi ninggalin aku”
Tangis
Indina semakin deras, namun belum juga ada pelukan atau usapan air mata dari
Bara. Ia malah terus berbicara.
“Aku
tau setiap hari kamu liatin aku dari jendela rumahmu. Aku juga tau kalau
sebenarnya kamu cemburu lihat aku sama Pinkan. Aku tau kamu sedih sampai gak
mau keluar kamar saat aku pamitan untuk pindah ke kontrakan. Aku tau kamu,
Din.”
Kemudian
Bara menjelaskan tentang kabar yang beredar bahwa Bara akan menikahi Pinkan.
Ternyata semua itu hanya kabar burung yang tidak benar sama sekali. Ada
perasaan lega di hati Indina saat mendengar berita tersebut.
Indina
langsung memeluk Bara. Ia sudah tak bisa lagi membendung rasa rindu yang sejak
lama telah menghantui hari-harinya. Dalam peluk, ia dapat meluapkan semua
perasaannya meskipun tak ada kata yang terucap, namun air mata itu berbicara.
Dan Bara paham semua arti dari air mata Indina.
Akhirnya
matahari tenggelam dengan senyum. Berganti malam yang kembali cerah penuh
dengan bintang-bintang. Bara kembali kerumah Indina, tetapi hanya untuk malam
itu saja, karena esok pagi-pagi sekali Bara sudah harus membawa kapalnya
kembali berlayar meninggalkan dermaga bersama kenangannya, juga Indina.
[]
Hari
kepulangan Bara pun tiba. Jauh sebelum ayam jantan berkokok dan burung-burung
berkicau, Indina sudah bangun menyiapkan sarapan untuk Bara dan tak lupa pula
ia siapkan hatinya agar tetap teguh.
Bara
pergi meninggalkan dermaga begitu cepat, padahal Indina baru saja menyadari
bahwa dirinya sangat mencintai Bara. Namun sayang sekali semua harus berakhir
hari ini. Indina harus memupuk dalam-dalam rasa yang baru ia sadari itu. Agar
Bara tak berat langkah meninggalkannya.
Sebelum
Bara pergi, Indina menyisipkan sepucuk surat beramplop merah di saku Bara.
“Kamu baca setelah kapalmu berlayar di tengah lautan” pesan Indina. Bara
menganggukkan kepalanya.
Bara
sudah menginjakkan kakinya di kapal, namun ternyata seperti ada magnet yang
menariknya untuk kembali mendekati Indina.
“Aku
akan kembali lagi, Din. Aku akan kembali untuk kamu. Aku akan menjadikanmu
pendampingku berlayar mengarungi lautan dan menerjang ombak. Kita akan pergi
bersama-sama suatu hari, Din.” Lalu Bara memeluk Indina dan berkata, “jaga diri
kamu baik-baik ya!”
[]
Kapal
lusuh itu kemudian pergi. Kini dermaga kembali sepi. Indina akan tetap berdiri
di ujung dermaga, bedanya kali ini ia tau siapa yang ditunggu dan siapa yang
akan datang lagi.
Saat
kapalnya sudah menjauh dari dermaga, Bara membuka surat dari Indina. Ia
membacanya dengan perasaan yang sedang tak tentu.
|
Untukmu, Sang Nahkoda
Berkapal Lusuh
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, membuat
kenangan seperti kilat.
Rasanya baru kemarin kita berjumpa, bercerita
diujung dermaga.
Rasanya baru sebentar kita berbincang, sembari
menghitung bintang.
Tapi kini kau harus pergi, meninggalkanku dala
sunyi.
Saat aku mulai sadar, bahwa aku telah mencintaimu tanpa
kadar.
Membendung kerinduan, untuk sebuah pertemuan.
Kupikir, kau akan jadikan aku sebuah tujuan, tapi
nyatanya aku hanya sebuah persinggahan.
Selamat berlayar menembus lautan, Kapten!
Dari aku yang akan selalu
menunggumu ditepi dermaga
|
“Aku akan kembali dan menjadikanmu
tujuan akhirku berlayar, Indina.” Ucap Bara dalam hati sambil melihat
ke arah dermaga yang tertutup kabut pagi.
Sementara
itu, Indina belum beranjak dari ujung dermaga, memandangi kapal yang terlihat
seperti titik di kejauhan, lama-kelamaan hilang.
“Aku akan menunggumu disini, sampai
kamu datang lagi. Tak peduli selama apapun. Yang aku tau, tujuan akhirmu adalah
aku.” Indina berkata dalam hati dengan mantap seraya meneguhkan
hatinya yang baru ditinggal oleh orang yang sangat ia cintai.
-SELESAI-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar