Pages

Senin, 22 September 2014

Persinggahan


Dia percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan ombak yang tenang untuk membawa sebuah kapal bertuan singgah di dermaganya.
Maka datanglah hari itu. Hari yang selalu di tunggu-tunggu oleh gadis berkerudung merah, Indina. Hari dimana seonggok kapal lusuh perlahan terlihat mendekati tempatnya berdiri. Dermaga.
Hari itu adalah hari terindah untuk Indina. Bersamaan dengan datangnya nahkoda yang sudah mabuk lautan.
Hari-hari baru pun di mulai….
[]
Bara, begitu panggilan sang nahkoda. Ia datang dari sebrang pulau. Berkelana mengarungi lautan untuk mencari tempat pemberhentian. Bara meninggalkan berjuta kenangan pahit di tempatnya berasal. Lalu bertekad untuk melawan hantaman ombak demi mencari sebuah ketenangan. Untuk dirinya dan tentu untuk hatinya jua.
Ia tinggalkan tanah kelahirannya yang sudah penuh dengan lumpur kekecewaan. Pergi menerjang ombak, mencari tanah baru untuk berpijak. Sejak saat itu, di dermaga yang sepi, tempat dimana Indina berdiri, mereka bertemu dan mengenal satu sama lain. Indina mengetahui tujuan Bara datang ketempatnya dan Bara mengetahui apa maksud Indina selalu berdiri diujung dermaga.
Mereka selalu melewati hari-hari dengan penuh suka cita. Selalu tertawa bersama dan bercerita tentang apa saja yang menurut mereka pantas untuk di bagi bersama. Sampai pada suatu hari di sore yang mendung saat mereka berdua sedang duduk di ujung dermaga sembari menyeruput teh hangat, tiba-tiba sunyi menyergap di antara keduanya. Lama. Sangat lama mereka berdua membisu sampai akhirnya Bara membuka pembicaraan.
Bara menceritakan semua tentang masa lalunya. Tentang kisah indah yang harus usai saat kebahagiaannya belum selesai ia cicipi. Tentang jalan hidup yang terjal sampai tergopoh-gopoh menjejakinya. Tentang masa lalunya yang kelam, bahkan sangat hitam.
“Kamu kenapa? Kok murung?” tanya Bara.
Indina hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum dengan susah payah.
[]
            3 bulan berlalu dengan cepat, menyisakan tawa di ujung dermaga. Semuanya tidak lagi berjalan seperti sediakala, tak ada lagi tawa di ujung dermaga. Dermaga itu kembali sepi, hanya tersisa angin yang sedang mengikis kenangan.
            Indina duduk di dekat jendela dengan muka masam. Sementara Bara akhir-akhir ini lebih sering terlihat bersama kapal lusuhnya yang sedang Ia betulkan sisi-sisi jeleknya. Terlihat pula sesekali seorang perempuan yang tak asing lagi bagi Indina datang menghampiri Bara. Selalu datang dengan makanan di dalam rantangnya.
Sakit rasanya hati Indina kala melihat sahabatnya sendiri menggantikan posisinya didekat Bara. Ya, sahabatnya. Pinkan adalah sahabat Indina sejak kecil. Tetapi, ada rasa cemburu dan tak suka yang keluar dari hati Indina. Takut-takut Bara berpaling darinya. Ia tidak menyadari bahwa perlahan air mata jatuh membasahi pipinya. Kemudian, sang Ibu yang melihat anaknya sedang murung pun datang menghampiri.
“Kamu kenapa murung gitu mukanya?” tanya Ibu Indina.
Indina hanya terdiam sambil terus menahan air matanya agar tidak keluar lagi. Tapi ibunya sudah paham, pasti ada sesuatu yang tidak beres sedang menimpa anak kesayangannya. Dan selurusan mata memandang ia mendapati Bara sedang bersama Pinkan. Duduk berdua sambil entah menertawakan apa atau siapa.
Sejak hari itu, Bara yang semula tinggal dirumah Indina berpamitan untuk mencari kontrakan dan tinggal sendiri. Sampai terdengar kabar bahwa Bara akan segera meminang Pinkan. Sungguh tak di sangka oleh Indina, begitu pula dengan ibunya yang terheran-heran.
Indina sudah lama sekali tidak bertemu dengan Pinkan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Orang tersayang pergi, ditinggal sahabat pula. Malang nasib Indina kala itu. Dia yang merawat dan menyembuhkan luka pada hatinya Bara, namun orang lain yang memetik hasilnya saat Bara sudah pulih. Kini hati Indina benar-benar teriris.
[]

Petang yang kelabu di ujung dermaga….
Indina duduk melamun sambil memainkan kakinya yang terendam air. Menikmati senja yang mendung, bersama desiran ombak yang tenang dan angin yang berhembus perlahan. Tiba-tiba Bara datang dan duduk disamping Indina.
“Besok aku mau pulang, Din” katanya pelan
Indina masih terdiam sampai akhirnya Bara membuka percakapan lagi.
“Mungkin kamu marah sama aku sejak hari itu. Tapi aku gak bermaksud untuk buat kamu kecewa. Aku cuma mau kamu tau siapa aku sebenarnya, Din. Biar kamu tau bahwa aku gak sesempurna yang kamu bayangin.” Bara berhenti bicara lalu menarik napas dalam-dalam sebelum dikeluarkan lewat hembusan yang pelan.
Lalu ia mulai lagi berceloteh, “Aku cerita semua ke kamu karena aku percaya sama kamu. Aku pikir kamu akan terima semuanya dan tetap dukung aku dengan keadaan yang seperti itu. Tapi ternyata kamu malah pergi jauhin aku. Saat itu aku benar-benar merasa kecewa sama kamu, Din.”
Deg. Hati Indina seakan-akan terkena lemparan batu besar. Indina benar-benar merasa bersalah karena sudah mengecewakan Bara. Ternyata selama ini Bara mengharapkan dia ada disisinya.
“Maafin aku, Bar” lalu air matanya terjun bebas menyentuh pipi
“Saat kamu jauhin aku, sengaja aku gak kejar kamu. Karena aku gak mau menahan kamu untuk tetap bersama aku saat keputusanmu adalah pergi ninggalin aku”
Tangis Indina semakin deras, namun belum juga ada pelukan atau usapan air mata dari Bara. Ia malah terus berbicara.
“Aku tau setiap hari kamu liatin aku dari jendela rumahmu. Aku juga tau kalau sebenarnya kamu cemburu lihat aku sama Pinkan. Aku tau kamu sedih sampai gak mau keluar kamar saat aku pamitan untuk pindah ke kontrakan. Aku tau kamu, Din.”
Kemudian Bara menjelaskan tentang kabar yang beredar bahwa Bara akan menikahi Pinkan. Ternyata semua itu hanya kabar burung yang tidak benar sama sekali. Ada perasaan lega di hati Indina saat mendengar berita tersebut.
Indina langsung memeluk Bara. Ia sudah tak bisa lagi membendung rasa rindu yang sejak lama telah menghantui hari-harinya. Dalam peluk, ia dapat meluapkan semua perasaannya meskipun tak ada kata yang terucap, namun air mata itu berbicara. Dan Bara paham semua arti dari air mata Indina.
Akhirnya matahari tenggelam dengan senyum. Berganti malam yang kembali cerah penuh dengan bintang-bintang. Bara kembali kerumah Indina, tetapi hanya untuk malam itu saja, karena esok pagi-pagi sekali Bara sudah harus membawa kapalnya kembali berlayar meninggalkan dermaga bersama kenangannya, juga Indina.
[]
Hari kepulangan Bara pun tiba. Jauh sebelum ayam jantan berkokok dan burung-burung berkicau, Indina sudah bangun menyiapkan sarapan untuk Bara dan tak lupa pula ia siapkan hatinya agar tetap teguh.
Bara pergi meninggalkan dermaga begitu cepat, padahal Indina baru saja menyadari bahwa dirinya sangat mencintai Bara. Namun sayang sekali semua harus berakhir hari ini. Indina harus memupuk dalam-dalam rasa yang baru ia sadari itu. Agar Bara tak berat langkah meninggalkannya.
Sebelum Bara pergi, Indina menyisipkan sepucuk surat beramplop merah di saku Bara. “Kamu baca setelah kapalmu berlayar di tengah lautan” pesan Indina. Bara menganggukkan kepalanya.
Bara sudah menginjakkan kakinya di kapal, namun ternyata seperti ada magnet yang menariknya untuk kembali mendekati Indina.
“Aku akan kembali lagi, Din. Aku akan kembali untuk kamu. Aku akan menjadikanmu pendampingku berlayar mengarungi lautan dan menerjang ombak. Kita akan pergi bersama-sama suatu hari, Din.” Lalu Bara memeluk Indina dan berkata, “jaga diri kamu baik-baik ya!”
[]


Kapal lusuh itu kemudian pergi. Kini dermaga kembali sepi. Indina akan tetap berdiri di ujung dermaga, bedanya kali ini ia tau siapa yang ditunggu dan siapa yang akan datang lagi.
Saat kapalnya sudah menjauh dari dermaga, Bara membuka surat dari Indina. Ia membacanya dengan perasaan yang sedang tak tentu.


Untukmu, Sang Nahkoda Berkapal Lusuh
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, membuat kenangan seperti kilat.
Rasanya baru kemarin kita berjumpa, bercerita diujung dermaga.
Rasanya baru sebentar kita berbincang, sembari menghitung bintang.
Tapi kini kau harus pergi, meninggalkanku dala sunyi.
Saat aku mulai  sadar, bahwa aku telah mencintaimu tanpa kadar.
Membendung kerinduan, untuk sebuah pertemuan.
Kupikir, kau akan jadikan aku sebuah tujuan, tapi nyatanya aku hanya sebuah persinggahan.
Selamat berlayar menembus lautan, Kapten!
Dari aku yang akan selalu menunggumu ditepi dermaga


 “Aku akan kembali dan menjadikanmu tujuan akhirku berlayar, Indina.” Ucap Bara dalam hati sambil melihat ke arah dermaga yang tertutup kabut pagi.
Sementara itu, Indina belum beranjak dari ujung dermaga, memandangi kapal yang terlihat seperti titik di kejauhan, lama-kelamaan hilang.
“Aku akan menunggumu disini, sampai kamu datang lagi. Tak peduli selama apapun. Yang aku tau, tujuan akhirmu adalah aku.” Indina berkata dalam hati dengan mantap seraya meneguhkan hatinya yang baru ditinggal oleh orang yang sangat ia cintai.

-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com