Pages

Selasa, 24 Januari 2012

MALAIKATKU



Kumandang adzan subuh membangunkan aku dari mimpi buruk itu. Sudah tiga kali berturut-turut kudapati mimpi itu ditiap tidurku. Bergegas kuambil air wudhu dan tenggelam dalam isak tangis saat bersujud. Masih terngiang ditelingaku teriakkan adik kecilku dan suara tangisan ibu yang tersedu-sedu karena bapak pergi meninggalkan aku, ibu, serta adikku yang masih balita. Ia pergi entah kemana, bersama istri barunya.
    Setelah kepergian bapak, segala urusan kepala keluarga diambil alih oleh Ibuku. Beliau bekerja apa saja yang penting halal dan dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, serta biaya sekolahku. Terkadang, ibu menjadi buruh cuci di rumah tetangga, Ibuku juga ahli dalam bidang menjahit, banyak tetangga yang memanfaatkan keahlian Ibuku, satu-satunya barang berharga dirumah kami adalah mesin jahit kepunyaan ibu, kami tidak punya televisi, bahkan radio. Ibu juga ahli dalam bidang masak-memasak, ibu memasak macam-macam makanan atau hanya sekedar kue basah untuk di titipkan di warung-warung dekat rumah.
    Aku bukan anak seorang pengusaha kaya seperti temanku, Ria. Orangtuanya adalah pengusaha sukses di Ibukota. Namun, Ria seolah tak pernah puas dengan apa yang di milikinya. Terkadang aku menangis di hadapan Allah, “Mengapa harus dia yang tidak pernah bersyukur kepadamu atas nikmat yang engkau berikan? Mengapa bukan aku yang akan terus-menerus bersyukur kepadamu?” jerit hatiku lirih.
    Hari itu seluruh murid kelas XII.IPA-3 sibuk mengerjakan PR Kimia, tapi tidak dengan aku, aku sibuk menyelesaikan membaca novel karya Andrea Hirata. Tiba-tiba Ria mendekat, “Dindaaaa, pijem PR Kimianya dong, nanti siang aku teraktir mie ayam deh”. Belum sempat aku menjawab, nona manja ini sudah membuka tasku dan mengambil buku kimia milikku. Seketika seluruh kelas bergerombolan mendekati meja Ria dan mereka semua menyalin pekerjaanku dengan santai.
    20 menit berlalu dan sekarang buku itu ada di tanganku dengan keadaan yang sangat tidak layak disebut sebagai buku seorang pelajar. Bukuku rusak, lusuh, dan kusut. Saat itu juga aku langsung menunduk dan menutup mukaku dengan tangan.
    “Kamu kenapa Din?” suara itu, aku hapal benar siapa pemilik suara merdu itu. Ya, dia sahabatku, Nadia. Dia orang yang setia dan tulus berteman denganku. Bukan karena dia memanfaatkan aku tapi karena dia benar-benar percaya kepadaku bahwa aku adalah seseorang yang istimewa, itu ungkapannya saat aku bertanya mengapa.
    Kutegakkan kepala serta badanku. Kuhapus air mata di pipiku. Dan dengan lantang aku berkata “I’m FineJ” walaupun aku tau ia akan bertanya terus-menerus kepadaku sampai akhirnya aku mau menceritakan masalahku kepadanya.
    “Ga usah di tutup-tutupin gitu, kalau kamu ada masalah, cerita aja sama aku”. Tangisku meluap saat aku menceritakan kepada Nadia tentang perbuatan Ria dan teman-teman di kelas. Nadia menenangkanku dan mendekap hangat tubuhku yang gemetar karena tangis.
Nadia marah, ia geram melihat tingkah laku Ria dan teman-temannya terhadap diriku. “Udah, udah jangan nangis lagi Din. Biar nanti kuberi pelajaran mereka semua” Nadia langsung berdiri dari kursinya, sontak aku kaget dan segera ku tarik tangannya, “Ga usah Nad, biarkan mereka seperti itu. Aku sudah ikhlas. Kan hanya bukuku aja yang rusak, nanti bisa diperbaiki” senyumnya mengembang dan ia kembali duduk disampingku.
Senang rasanya memiliki sahabat seperti Nadia, dia orang yang tidak pernah memandang derajat jika berteman, dia mau kuboyong kerumahku yang sempit dan kecil di kampung yang kumuh. Dia tidak pernah malu mengajakku pergi jalan-jalan ke mal walaupun baju yang kukenakan tidak layak untuk dipakai di mal. Oh.... Sahabatku... Betapa cantiknya paras serta hatimu.
Acara wisuda kelas XII sebentar lagi akan di laksanakan. Aku sedih, Nadia akan melanjutkan kuliahnya ke Australia. Dan aku? Entahlah. Mungkin cukup sampai disini. Aku akan bekerja membantu ibu membiayai kebutuhan rumah tangga.
“Eh, lo semua tau ga kalo baju wisudaan gue belinya dimana?” suara lantang Ria mengagetkan aku dan Nadia yang sedang asik melihat –lihat isi majalah.
“Emang belinya dimana, Ri?” salah satu teman kelasku menyeletuk.
“Di Singapura doooong. Kalian harus liat nanti” katanya, pamer.
“waaaah pasti lo cantik banget deh nanti Ri” Anton yang terkenal playboy ikut ambil suara.
“Iyalah pastinya. Secara gitu loh baju punya gue mahal. Belinya di Singapur, emangnya baju punya temen kita yang itu, cuma jahit rumahan. Ga selevel deh sama yang punya gue. Hahaha” aku terdiam. Aku tau dia meledekku. Seluruh kelas tertawa.
Meja digebrak dan seketika seisi kelas terdiam. “Ria! Mau apa sih kamu itu? Setiap hari mengejek Dinda. Setiap hari menyalin PR Dinda. Sadar dong! Jangan berasa dewa deh di sini. Jangan pernah memamerkan kekayaanmu! Itu bukan punyamu tapi puya orangtuamu! Dan sadarlah. Halal kah uang dari orangtuamu? Jangan pernah mengejek Dinda lagi. Akan kulaporkan semua perbuatanmu ke Pak Zen” selesai berbicara Nadia langsung menarik tanganku dan membawaku ke kantin. Lagi-lagi dia membuatku tenang dan nyaman. Terimakasih sahabatku...
Sudah dari jauh-jauh bulan ibu mempersiapkan baju untuk kupakai di acara wisuda nanti. Baju kebaya berwarna ungu muda menjadi plihannya, “cocok dengan kulitmu yang putih” kata ibu. Ia mendesain bajuku dengan apik. Indah sekali.
Menunggu acara wisuda membuat hari-hariku semakin gelisah. Aku takut benar-benar kehilangan sahabat terbaikku. Dan aku takkan dapatkan lagi sahabat yang seperti dia.
H-4 acara wisuda akan di laksanakan, aku berada di rumah sakit. Dua hari dua malam aku di sini, enggan rasanya membuka mata untuk sekedar menyapa orang disekitar. Kecelakaan dahsyat itu membuat ibu menangis tiap malam dalam sujudnya. Memohon agar aku diberikan keajaiban untuk bangun dan mengikuti acara wisuda.
Ternyata orang yang menabrakku adalah Ria. Ya. Dia yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi karena ia sedang di landa masalah saat itu. Perusahaan ayahnya bangkrut dan ibunya tak pernah lagi mendapat job sebagai model. Ia tinggal di sebuah kontrakan kecil. Semua harta benda yang mewah habih di ambil oleh orang penagih hutang.
Ibu menangis dalam tahajudnya, meminta dan memohon kepada Allah dan aku punya membuka mata. Di sampingku ada dua orang yang tak lagi asing untukku. Nadia sahabataku, dan... Ria. Ha? Ria? Dia di sini menemaniku?
“Dinda... maafkan aku” katanya sambil tersedu-sedu.
Nadia menceritakan semuanya kepadaku. Ibu pun bangun dari sajadahnya setelah sujud syukur dan langsung memelukku. Semua yang ada diruangan ini menangis. Menangis bahagia.
“I...ibu... berikan baju yang ibu buatkan untukku kepada Ria. Biarkan dia yang memakainya di acara wisuda. Dia akan terlihat lebih cantik nantinya” kataku terbata sambil tersenyum menyembunyikan kesedihan.
“Kenapa gitu Din?” tanya Ria kepadaku dengan heran.
“ga apa-apa kamu lebih pantas pakai baju itu Ri” senyumku mengembang.
“Terimakasih atas semua yang telah kalian berikan kepadaku. Kalian malaikatku...” itu kata terakhirku sebelum akhirnya aku menutup mataku dan tak membukanya lagi. Ibu, Nadia, dan Ria yang menemaniku malam ini menangis sambil memeluk tubuhku.
Aku pergi meninggalkan kehidupan ini dengan senyum bahagia. Acara wisuda itu akhirnya di gelar tanpa diriku. Aku melihat Ria memakai bajuku, cantik. Ya, dia cantik memakai baju ungu muda itu. Seluruh hadirin acara wisuda itu menangis saat Ria membaca puisi untukku di iringi suara gitar yang halus dari Nadia. Usai Ria membaca puisi, backsound lagu ST-12 yang berjudul ‘Saat Terakhir’ di putar. Semua kembali menangis.
Dari sudut belakang aku tersenyum melihat semuanya menangis. Terima kasih, kalian begitu banyak memberiku pelajaran akan hidup. Kalian memberiku sejuta arti cinta dalam kehidupan. Ibu... Nadia... Ria... kalian MALAIKATKU 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com