Bayang Semu
Secangkir
coklat panas dan dunia mayaku menemani aku menghabiskan petang yang menangis.
Hujan di luar sana mendukungku untuk bermalas-malasan di kamar. Ketika aku
sedang asik berbincang dengan temanku melalui obrolan di facebook tiba-tiba saja hand phone-ku
berbunyi. Sms dari operator rupanya. Tak perlu lagi kubaca, langsung kupijit
tombol delete dan kembali kuabaikan hand phone itu. Tak selang waktu cukup
lama, ‘si putih’ panggilku untuk hand phone
itu, berbunyi nyaring. Kali ini aku biarkan, kuanggap sms dari operator
lagi yang hinggap di kotak masukku. Aku kembali menyelam dalam dunia mayaku.
Pukul
9 malam baru ku lihat ‘si putih’. Aku terkjut. Ternyata yang sms bukan
operator, melainkan………..dia. Ya, dia. Dia orang di masa lalu yang tiba-tiba
saja menghilang. Dan sekarang? Ia kembali lagi, mungkin.
Namanya,
Enha. Dia teman lamaku. Dia yang membuat hidupku begitu berarti. Dia juga
membuatku mengerti apa arti menyayangi. Ia adalah malaikat dalam hidupku. Enha
membawa banyak perubahan yang positif dalam hidupku yang serba absurd.
Kami
berdua bukan sepasang kekasih, kami hanya sepasang sahabat yang saling tulus
mencintai sekaligus menyayangi. Kantin sekolah yang mempertemukan kami, saat
aku dan dia duduk di bangku kelas IX. Tanpa sengaja pertemuan itu berlanjut
dengan sms-an dan kemudia hangout bersama.
Pertemanan
kami berlanjut hingga kami duduk di bangku SMA yang sama, dan kami memutuskan
untuk menjalin persahabatan sampai kami menjadi kakek dan nenek. Namun harapan
itu seketika sirna karena Enha pergi ke luar kota sebelum ia di wisuda. Tak ada
yang tahu jelas apa penyebabnya. Aku sebagai sahabatnya pun tidak tahu soal
kepergiannya itu. Kucoba hubungi nomor ponselnya tetapi tidak aktif. Kubuka
akun facebook-nya namun akun itu
sudah di blokir bersamaan dengan menghilangnya Enha. Hari itu juga aku terus
menyelidikinya dengan cara mendatangi rumahnya dan bertama pada tetangga dan
petinggi setempat. Hasilnya, nihil. Tak ada yang tahu Enha dan keluarganya
pergi kemana.
Malam
itu aku pulang dengan lesu dan langsung merebahkan tubuh di atas ranjang.
Tiba-tiba ibu masuk menghampiriku, “Nak, ini ada titipan dari Enha” kata ibu
sambil menyodorkan sepucuk surat beramplop merah yang tertera nama si pengirim
di pojok kanan bawah. Enha. Dia yang mengirim surat itu. Aku heran lalu
bertanya pada ibu, “Bu, kapan Enha memberikan surat ini pada ibu?” beliau
bungkam. “Dia tadi kesini bu?”, perlahan ibu mulai membuka suaranya “iya, tadi
pagi setelah kamu berangkat, Enha kesini, member surat ini pada ibu”. “Ibu tahu
dia kemana?”, tanyaku penuh semangat berharap ibu tahu Enha berada dimana. “Ibu
tidak tahu, Ri. Dia hanya menitipkan surat itu untukmu lalu dia bergegas pergi”
kata ibu. Tubuhku semakin lemas.
Dan
sejak saat itu, aku tak pernah lagi tahu dia dimana. Ohya, kembali ke-sms yang
baru saja kubaca. Ternyata ini benar-benar Enha. Nomornya aktif kembali.
My Part
+6285xxxxxxx
Darl, how r u? I miss you so much.
Me :
Kamu kemana aja? Tiba-tiba menghilang. Kamu lupa dengan janjimu
dulu? Kamu janji akan terus bareng aku, kamu janji buat jagain aku terus. Tapi
mana buktinya!? Kamu pergi gitu aja. Gak pernah kasih aku kabar!
Tangisku
pecah saat itu juga. Aku ingat semua cerita tentang kami berdua. Masa-masa
indah, masa-masa kebahagiaan, dan masa-masa menyakitkan. Tak ada balasan yang
masuk ke ponselku. Kucoba hubungi nomornya tetapi tidak aktif. Ya Tuhan, apakah
harus ia menghilang lagi? Banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan kepadamu,
Enha tolong jangan menghilang lagi.
Aku
tertidur saat sedang menunggu balasan sms/telfon darinya. Hingga keesokan hari
aku terbangun, tak ada satu sms pun darinya. Kuanggap semua kejadian itu
sebagai mimpi, dan kulanjutkan kembali aktifitasku seperti biasa.
[]
Berhari-hari kutunggu balasan darinya, namun tak kunjung
dating. Baik. Aku memutuskan untuk benar-benar melupakannya, sama seperti
hari-hariku kemarin saat aku tak lagi ingat dengannya.
Malam minggu ini aku di undang sahabatku Evi ke acara
makan malam di rumahnya. Kebetulan aku dan dia sudah bersahabat dari kami duduk
di bangku menengah pertama. Dulu—sebelum Enha menghilang entah kemana, kami
selalu makan bersama di rumah Evi. Namun setelah Enha pergi dan aku pisah
sekolah dengan Evi, acara ini sudah tidak pernah kami adakan.
Jam setengah 7 malam, aku sudah berada di kamar Evi.
Sekedar bernostalgia. “kita makannya nanti dulu ya, Ri. Aku masih nunggu orang”
kata Evi memberitahu. “Sip deh. Emang kamu lagi nunggu siapa sih, Vi? Pacar
barumu ya?” tanyaku sambil meledek. Evi menyengir kuda.
Jam 8 lewat 10 menit. Akhirnya kami turun ke lantai bawah
dan segera ke meja makan. Sudah ada seorang laki-laki duduk membelakangi arah
kami datang.
Aku duduk di hadapan pria itu, dan Evi duduk di sebelah
kanannya. Setelah duduk dengan posisi yang nyaman aku baru menyadari kalau
orang yang ada di hadapanku sekarang bukanlah orang asing bagiku. Dia Enha.
Laki-laki yang belakangan ini telah mengusik kehidupanku. Aku diam. Ia membisu.
Aku terkejut, kenapa dia bias ada disini?
“Hey. Udahan dong kalian bengongnya”, suara Evi memecahkan
keheningan di ruang makan saat itu. “Vi, kok bisa?” tanyaku heran sambil
menunjuk ke arah Enha. Evi hanya tersenyum dan Enha akhirnya bersua. Dia
menjelaskan panjang lebar tentang kepergiannya yang misterius dan tentang
kedatangannya yang tak kalah misteriusnya.
Ternyata saat ia pergi dulu, ayahnya bangkrut dan
terlilit hutang disana sini. Akhirnya rumah keluarganya di jual dan Enha
sekeluarga kembali ke kampungnya. Soal kedatangannya yang tib-tiba, dia juga
punya ceritanya. Sebagai siswa berprestasi di SMP dan SMA dulu, akhirnya dia
memanfaatkan ilmunya untuk di ajarkan ke warga di kampungnya. Di dukung dengan
kepala desa setempat, dia mampu membuat perubahan di desanya.
Setelah di anggap mampu meruba desa menjadi lebih baik,
akhirnya Enha di angkat sebagai kepala desa termuda selama hampir 2 tahun.
Setelah ia rasa sukses merubah desanya menjadi lebih baik, akhirnya dia kembali
ke Ibu Kota Jakarta. Menemui Evi dan merencanakan ini semua.
Aku pikir inilah saat yang tepat untuk memberitahu
kepadanya tentang semua yang telah kurasakan selama kehilangan dirinya. Kupikir
ini waktu yang tepat untuk aku mengingatkan semua janjinya. Namun aku salah, ia
terlalu jauh untuk kugapai.
Maksudnya datang ke Jakarta hanya untuk memberitahu
kepada Evi dan aku, bahwa ia sudah menemukan dambaan hatinya. Dia akan segera
meminang anak juragan angkot di desanya. Dan seketika hatiku terasa ditusuk
dengan belati. Aku rapuh. Lagi.
[]
Setelah pertemuan malam itu, aku semakin sering
menyendiri. Setelah jam kuliah habis pun aku langsung pulang. Aku juga jarang
menginjakkan kaki ke kantin kampus. Aku lebih sering duduk diam di dalam kelas
atau malah pergi ke perpustakaan saat jam istirahat.
Pernyataan Enha di hadapanku malam itu membuatku
benar-benar sadar kalau dia hanyalah bayang semu. Dia terlalu semua untuk
kudekap kembali.
[]
Putre.
put, nih blog lu yee ?
BalasHapuslike this yo..