bergantung pada rindu saat senja
menenggelamkan rasa khawatir pada kelamnya malam
menyeruput hangatnya kesetiaan kala pagi kembali datang
tak lagi dapat kutopang tubuh ini dengan kaki lemas menunggumu di ujung jalan selama berhari-hari
menanti dengan ketidakpastian kapan kamu akan datang
menunggu dengan cemas akankah engkau datang
sekedar menatap, lalu berbincang
habis sudah suaraku menjeritkan namamu
mengharapkan sosokmu muncul dari balik layar hitam kepunyaan malam
yang berujung pada kesia-siaan
ya. malam tak bersahabat denganku rupanya
kucoba menunggumu kala pagi
mungkin saja matahari pagi dan sinarnya berpihak kepadaku
bisa sajakan mereka memberi kabar baik untukku?
dengan kehadiranmu, misalnya.
"manusia yang berencana. Tuhan yang menentukan." -hukum alam
ya. . . . begitulah kira-kira
pagi dan malam sama saja
tak ada yang berpihak denganku
kucoba lagi menunggu sosokmu saat senja
hingga malam kembali datang
engkau tak kunjung tiba
ah. . . sudahlah
mungkin ini saat titik jenuhku meluap
jenuhku telah menggapai puncaknya
dan. . . . ya. aku lelah
menunggu ketidakpastian, entah sampai kapan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar