Tuhan. . .
Apa pernah dalam doaku tak terselip namanya?
Apa pernah setiap khayalku tak ada dirinya?
Apa pernah mimpiku tak hadirkannya?
Tuhan. . .
Pernahkah dia mencariku seperti aku mencarinya?
Pernahkah dia merasa kehilanganku seperti yang aku rasakan?
Pernahkah dia selipkan namaku dalam sujudnya?
Pernahkah dia melamunkanku?
Pernahkah dia memimpikanku?
Pernahkah dia merindukanku?
Pernahkah dia mencintaiku?
Pernahkah Tuhan?
Perlahan airmata ini mengalir. Teringat semua tentangnya.
Saat dulu kala. Saat semua indah karena aku dan dia bersama.
Namun kini semua itu hancur seiring berjalannya waktu.
Ia pergi dan berjanji untuk kembali.
Lalu aku menunggu. Entah sampai kapan.
Hari-hari terasa hampa tanpanya. Malam yang hangat menjadi dingin, bahkan sangat dingin saat tak lagi ada dirinya.
Pesan singkat yang dikirim dari kejauhan saat aku akan terlelap pun, kini tak ada.
Dan semua berubah.
Hari terus berganti menjadi mingu-mingu. Lalu beranjak menjadi berbulan-bulan.
Tapi dia tak jua datang.
Kemana dirimu? Apakah kamu melupakan janjimu?
Semua tanya hanya tersimpan rapi di otakku.
Tak ada yang dapat menjawab.
Apa pernah Tuhan berjanji untuk satukan kembali dua insan yang telah berpisah?
Awalnya aku berpikir, iya Tuhan akan persatukan lagi yang telah berpisah.
Karena "jodoh tak akan kemana" katanya.
Tapi sekarang permasalahannya, apa aku dan dia saling berjodoh?
Lalu jika tidak, untuk apa aku tetap berada di ujung jalan menanti kehadirannya?
Apa itu bodoh?
Akankah dia kembali?
Akankah dia tepati segala janji?
Segala tanya itu membuatku lelah. Lalu tanpa sadar tertidur dimeja belajarku.
Jam 5 pagi bunyi alarm yang nyaring membangunkanku.
Aku beranjak dari meja belajar dan segera mandi kemudian shalat subuh.
Pagi ini aku masih berharap dia kembali.
Hanya dia. Bukan orang lain.
Seperti biasa. Aktifitas kulalui dengan santai sembari mengingat-ingat tentangnya.
Masih tentangnya. Dan akan terus tetap tentangnya.
Agak sedikit berbeda untuk hari ini.
Aku akan datang ke pesta ulang tahun sahabatku.
Ini akan jadi hari terspesial karena aku adalah tamu spesial.
Ya. Aku tidak akan mengecewakan sahabat terbaikku.
Aku sengaja datang lebih awal daripada tamu undangan yang lain.
Selang satu jam kedatanganku, acara ulang tahun di mulai.
Hampir semua yang hadir telah kukenal.
Tidak terkecuali. . . .tamu yang ada di pojok sana.
Lelaki berjas hitam dengan seorang perempuan bergaun merah.
Nampaknya aku kenal dengan lelaki itu.
Rasanya tak asing di mataku walau terlihat dari kejauhan.
Entah kenapa kaki ini mengajakku mendekat.
Perlahan namun pasti. Aku mendekati mereka yang tengah asik bercengkrama.
Hap. Aku sudah berdiri dihadapan mereka berdua.
Lalu aku terkejut. Diam. Memperhatikan.
Dan. . .
Plak. Satu tamparan mendarat mulus di pipinya.
"Jahat!"
Hanya satu kata. Lalu aku pergi, tentu saja sembari terisak.
Aku tau semua mata tertuju padaku.
Tapi aku tak peduli. Aku tetap pergi. Walau sahabatku menahan dan memintaku untuk tetap tinggal.
Aku tak bisa. Aku tak bisa melihat kenyataan yang tadi itu.
Dia adalah lelaki yang selama ini aku tunggu.
Yang selama ini selalu kuselipkan namanya dalam doa.
Yang selalu kurindukan.
Yang selalu kupikirkan.
Dan dia telah kembali.
Namun bukan untukku.
Sekarang, semua tanya telah terjawab.
Dia, bukan yang terbaik untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar